Bupati M. Syukur Pendidikan Merangin Harus Berakar Adat dan Agama

Merangin, Forumnusantaranews.com-
Pemerintah Kabupaten Merangin menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan. Selain membenahi gedung dan sarana, Pemkab kini mendorong penguatan mutu pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan nilai religius.
Komitmen itu disampaikan langsung Bupati Merangin M. Syukur saat memimpin Rapat Koordinasi Rakor bersama seluruh Kepala Sekolah TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Merangin. Rakor digelar di Aula Utama Lantai IV Kantor Bupati Merangin, Rabu (15/7/2026)
Dalam arahannya, Bupati menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera merumuskan formula integrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Salah satu program pembiasaan yang ditekankan adalah kegiatan religius sebelum KBM dimulai.
“Bagi siswa yang beragama Islam, sebelum memulai belajar, dapat dibiasakan membaca Al-Qur’an atau Juz Amma. Untuk siswa nonmuslim, kegiatannya dapat disesuaikan dengan keyakinan masing-masing,” ujar Bupati di hadapan ratusan kepala sekolah yang hadir.
Selain pembiasaan agama, Bupati juga mewacanakan adanya sesi khusus untuk mempelajari adat istiadat daerah, minimal satu kali pertemuan dalam sebulan.
Menurutnya, pemahaman terhadap budaya lokal sangat krusial agar generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus modernisasi.
“Mengapa adat istiadat ini penting? Karena inilah ciri khas dan jati diri bangsa serta daerah kita. Jangan sampai generasi penerus kita kehilangan identitas dan tidak mengenal budaya mereka sendiri,” tegasnya.
Bupati M. Syukur bahkan mengakui bahwa tantangan pemahaman adat ini juga terjadi di generasi usianya, sehingga intervensi melalui jalur pendidikan formal mutlak diperlukan.
Di hadapan para kepala sekolah, M. Syukur mengingatkan bahwa di era globalisasi saat ini, pemerintah maupun pihak sekolah tidak mungkin membendung perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial seperti TikTok oleh anak-anak.
Oleh karena itu, satu-satunya strategi yang bisa dilakukan adalah dengan membangun benteng pertahanan moral yang kokoh pada diri siswa.
“Perkembangan teknologi berjalan jauh lebih cepat daripada cara otak kita berpikir. Satu-satunya jalan adalah kita harus mampu mengimbanginya. Benteng pertahanan terakhir bagi generasi kita adalah adat istiadat, pendidikan karakter, dan budi pekerti,” pungkasnya.(Tat/Nic)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *