Armada Sumud Masih Tertahan di Perairan Turki Akibat Cuaca Buruk
Armada Sumud yang terdiri dari sejumlah kapal kemanusiaan masih tertahan di perairan Turki dan perbatasan Yunani. Mereka menunggu cuaca membaik sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gaza, Palestina. Hingga malam Sabtu (16/5/2026), 54 kapal kemanusiaan belum menarik jangkar untuk berlayar.
Cuaca buruk dengan angin kencang dan ombak tinggi menyebabkan para pelaut harus bermalam lagi di Teluk Antalya dan sekitar Kepulauan Kastellorizo. Di Teluk Antalya, sekitar 30 kapal masih terparkir di sana. Salah satu kapal yang terlibat adalah Kapal Boralize, yang dinaiki oleh jurnalis. Di dalamnya terdapat sembilan partisipan, termasuk dua orang dari Malaysia, satu dari Prancis, dan lima dari Turki.
Kapal Boralize sudah lepas jangkar di perairan Teluk Antalya sejak Jumat tengah malam. Sementara itu, jurnalis lainnya, Thoudy Badai, sedang berada di kepulauan antara Turki dan Yunani. Semua kapal memilih untuk berlindung di teluk karena cuaca buruk yang melanda perairan Mediterania sejak Kamis malam.
Sebanyak 59 kapal GSF yang ditumpangi oleh sekitar 500 partisipan dari sekitar 50 negara resmi berlayar menuju perairan Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Armada ini menerabas cuaca buruk, sehingga hampir semua partisipan mengalami mabuk laut. Bahkan para profesional maritim pun mengakui bahwa kondisi cuaca dan ombak tinggi selama beberapa hari terakhir sangat berbahaya bagi kelangsungan misi.
Akibatnya, seluruh armada dipandu untuk mencari tempat berlindung. Selama mereka berada di Teluk Antalya, para partisipan saling bekerja sama dalam berbagai hal, seperti menyusun jadwal jaga kapal, membersihkan armada, dan memperbaiki kerusakan kecil pada layar maupun mesin kapal. Peralatan komunikasi juga sempat mengalami kendala, namun dapat diatasi dengan baik.
Dalam hal logistik, partisipan saling membantu dalam memasak dan mengantarkan makanan. Beberapa peserta pelayaran dari Eropa yang menjalani pola hidup vegetarian tetap dilayani oleh peserta lain dengan berbagi makanan vegan. Tidak ada partisipan yang kekurangan makanan atau minuman.
BRICS Desak Gencatan Senjata Tanpa Syarat di Gaza
Sementara itu, para menteri luar negeri (menlu) negara-negara anggota BRICS mendesak gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Jalur Gaza. Mereka juga meminta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Palestina. Pernyataan bersama tersebut dikeluarkan setelah pertemuan tingkat menlu di New Delhi, India, Jumat (14/5/2026).
“Mereka (para menlu BRICS) mendesak para pihak untuk memiliki itikad baik dalam negosiasi lebih lanjut guna mencapai gencatan senjata segera, permanen, dan tanpa syarat, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza dan semua bagian lain dari wilayah Palestina yang diduduki,” bunyi pernyataan tersebut.
Para menteri juga menyerukan pembebasan seluruh sandera serta penyediaan akses berkelanjutan dan tanpa hambatan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.
Konflik antara Hamas dan Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 70 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 170 ribu orang. Otoritas Israel melaporkan sedikitnya 1.200 warga Yahudi tewas dalam konflik tersebut.
Perkiraan regional dan internasional menunjukkan bahwa pembangunan kembali wilayah kantong yang hampir hancur total akan memakan waktu sekitar 10 tahun dan memerlukan dana sekitar 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1,2 kuadriliun.
Tinggalkan Balasan