Kondisi Hidrometeorologi Kering Memengaruhi Penerbangan dan Pelayaran di Berau
Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), kini menghadapi kondisi hidrometeorologi kering yang memicu kekeringan ekstrem dan risiko kebakaran hutan. Kondisi ini mulai berdampak pada aktivitas penerbangan dan pelayaran di wilayah tersebut.
Pengaruh Kekeringan pada Penerbangan
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Berau, Patah Atabri, menyampaikan bahwa secara umum kondisi penerbangan masih terkendali. Namun, ada evaluasi terhadap jadwal penerbangan Batik Air rute Jakarta-Berau akibat rendahnya jarak pandang.
Selama dua hari berturut-turut, yaitu Jumat (21/8) dan Sabtu (22/8), penerbangan Batik Air rute Jakarta-Berau dialihkan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan. Hal ini dilakukan karena jarak pandang di Bandara Kalimarau hanya sekitar 1.500 meter, sehingga pendaratan dinilai tidak aman.
Pesawat yang dialihkan ke Balikpapan kemudian menunggu sampai kondisi cuaca memungkinkan untuk melakukan pendaratan di Kalimarau. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan ketika kondisi cuaca dan jarak pandang tidak memenuhi batas yang dipersyaratkan.
Untuk mengantisipasi hal serupa, Batik Air mengajukan penyesuaian waktu penerbangan atau re-time untuk penerbangan Minggu (23/8/2026). Jadwal yang biasanya tiba pukul 08.15 Wita digeser menjadi pukul 10.15 Wita. Perubahan ini dilakukan untuk memberikan ruang terhadap perbaikan kondisi jarak pandang pada pagi hari.
Meski demikian, penyesuaian jadwal tersebut belum tentu diberlakukan secara berkelanjutan. Keputusan re-time tetap berada pada maskapai dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta jadwal penerbangan lanjutan atau connecting flight.
Batasan Jarak Pandang untuk Pendaratan dan Lepas Landas
Patah menjelaskan, kebutuhan jarak pandang untuk pendaratan dan lepas landas memiliki batas berbeda. Pendaratan (landing) membutuhkan visibilitas minimal sekitar 3.500 meter, sedangkan untuk lepas landas (take off) minimal sekitar 1.600 meter.
Dengan kondisi tersebut, penerbangan pagi Super Air Jet sejauh ini tidak terlalu terganggu. Pihak UPBU Kalimarau tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan berharap kondisi segera membaik sehingga siklus penerbangan kembali berjalan normal.
Dampak pada Sektor Pelayaran
Sementara itu, sektor pelayaran di Berau juga belum mengalami dampak signifikan. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Tanjung Redeb, Lister Martupa Gurning, menyampaikan bahwa lalu lintas kapal masih berjalan dan belum mengalami gangguan berarti.
Namun, sejumlah kapal harus menunggu kondisi pasang yang sesuai sebelum melaksanakan kegiatan pelayaran. Kondisi pasang surut yang tinggi menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan kapal, terutama untuk mencegah risiko kandas.
Lister mengatakan, pengaturan aktivitas kapal menjadi lebih penting dalam kondisi tersebut. Operator dan pihak kepanduan diminta menyesuaikan pergerakan kapal dengan kondisi pasang surut. Imbauan selalu disampaikan kepada operator dan pemanduan agar tidak terjadi kandas.
Menurutnya, dampak yang dirasakan sejauh ini lebih kepada perlambatan dan penyesuaian waktu kegiatan kapal. Karena itu, langkah mitigasi terus dilakukan agar kondisi tersebut tidak menghambat kelancaran arus kapal maupun distribusi barang.
















