El Nino Kurangi Hujan di Timika, Pengaruh pada Papua Tengah

Cuaca37 Dilihat

Dampak El Nino Mulai Dirasakan di Mimika dan Nabire

Fenomena El Nino mulai menunjukkan dampaknya terhadap kondisi cuaca di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Mimika dan Nabire di Papua Tengah. Kondisi ini memicu penurunan curah hujan dan mengubah pola iklim yang sebelumnya lebih basah menjadi lebih kering.

BMKG Mozes Kilangin, stasiun meteorologi di Timika, mencatat bahwa suhu udara di kota tersebut telah meningkat hingga 30°C akibat berkurangnya curah hujan. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dari rata-rata suhu normal yang biasanya berkisar antara 28 hingga 29°C pada bulan Juni dan Juli.

Perubahan Pola Curah Hujan

Menurut forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Mimika, Dafa, dampak El Nino sudah terasa dengan adanya penurunan intensitas curah hujan. Beberapa wilayah di Indonesia bahkan telah mengalami periode tanpa hujan selama beberapa hari hingga puluhan hari.

Di wilayah Papua, seperti Nabire dan daerah lainnya, kondisi kering sudah mulai dirasakan. Namun, di Timika masih terdapat hujan meskipun intensitasnya rendah. Secara klimatologis, puncak curah hujan di Timika biasanya terjadi pada sekitar Agustus. Namun, pengaruh El Nino menyebabkan curah hujan yang sebelumnya tinggi mengalami penurunan hingga berada di bawah kondisi normal, terutama pada Juni dan Juli.

Dafa menjelaskan bahwa kondisi tersebut diperkirakan mulai berangsur stabil pada Oktober hingga November. Intensitas El Nino juga diprediksi melemah secara bertahap hingga akhir tahun.

Pengaruh Terhadap Suhu Udara

Selain berdampak terhadap curah hujan, fenomena El Nino turut berpengaruh terhadap suhu udara. Meski demikian, suhu di Timika masih berada dalam kategori normal. Dalam beberapa hari terakhir, suhu maksimum tercatat sekitar 30 derajat Celsius.

“Normalnya pada Juni dan Juli sekitar 28 sampai 29 derajat Celsius. Karena beberapa hari tidak turun hujan, suhu bisa mencapai 30 derajat Celsius,” ujarnya.

Masalah Kabut Asap

Dafa juga mengungkapkan adanya kondisi kabut asap yang dapat memengaruhi jarak pandang. Salah satu faktor yang disebutkan yakni keberadaan titik panas atau hotspot dan kebakaran di wilayah Merauke.

BMKG mengimbau masyarakat Mimika tetap waspada terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air apabila kondisi kering berlangsung lebih lama. Masyarakat juga diminta mengoptimalkan sumber daya air yang tersedia sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan perubahan kondisi cuaca.

Langkah Antisipasi untuk Masyarakat

“Ketika terjadi hujan, masyarakat di wilayah seperti Timika diharapkan dapat menampung air. Kita tidak tahu bagaimana dampaknya ke depan, sehingga perlu mengoptimalkan sumber daya air cadangan untuk kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Tips untuk Menghadapi Cuaca Kering

Untuk membantu masyarakat menghadapi situasi ini, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Memastikan penyimpanan air saat hujan terjadi
  • Menggunakan air secara efisien dan hemat
  • Menjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran yang memperparah kabut asap
  • Mengikuti informasi cuaca secara berkala dari BMKG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *