Goes dan Ngosrek Lintas Iman Purwakarta: Bukan Seremoni, Ini Aksi Nyata Persaudaraan!

 

Forumnusantaranews.com – Purwakarta Semangat lintas iman tak lagi sekadar jargon. Di Purwakarta, kebersamaan itu benar-benar “turun ke jalan” mengayuh sepeda, membersihkan rumah ibadah, hingga menanam pohon demi masa depan bersama.

Dipimpin Kepala Kemenag Purwakarta, Ohan Burhan, kegiatan “Goes & Ngosrek” pada Selasa (28/4/2026) menjelma menjadi gerakan sosial yang kuat, menyatukan berbagai elemen umat beragama dalam satu aksi konkret. Bukan seremoni, bukan pula formalitas ini adalah bukti bahwa toleransi bisa hidup dan bekerja.

Sejak pagi, peserta dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha berkumpul membawa satu misi merawat kerukunan lewat tindakan nyata. Hadir pula FKUB, tokoh masyarakat, hingga organisasi perempuan seperti Wanita Katolik Republik Indonesia yang ikut ambil bagian dalam gerakan ini.

Kayuhan sepeda menjadi pembuka perjalanan. Tujuan pertama GBT Tabernakel Purwakarta. Di sana, peserta langsung bergerak mengecat tembok gereja, membersihkan lingkungan, tanpa sekat, tanpa ragu. Pesan yang disampaikan tegas: kepedulian tak mengenal perbedaan.

Aksi berlanjut ke Nagri Tengah. Di tepi aliran sungai, lima pohon damar ditanam. Bukan sekadar penghijauan, tetapi simbol kuat bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, lintas iman dan lintas generasi.

Perjalanan terus bergulir. Dari SMP Talenta, Paroki Salib Suci, hingga Vihara Budi Dharma dan Vihara Budi Asih, semangat gotong royong tak surut. Setiap titik menjadi saksi bahwa perbedaan bukan penghalang justru kekuatan.

Di Gereja Pasundan, nilai toleransi ditanam sejak dini kepada siswa sekolah dasar melalui simbol penyerahan bibit pohon. Sementara di Gereja HKBP, aksi ngosrek kembali menggema, disambut hangat penuh kebersamaan.

Puncaknya di TK Al-Muhajirin Purwakarta. Lebih dari 60 peserta berkumpul dalam suasana hangat, penuh makna. Tokoh seperti Ifa Faizah Rohmah dan Abun Bunyamin menguatkan pesan bahwa kerukunan harus terus dirawat bukan hanya dibicarakan.

Pesan dari kegiatan ini jelas dan menggugah ngosrek bukan sekadar bersih-bersih, tapi gerakan sosial lintas iman yang nyata.

Purwakarta hari itu memberi contoh bahwa Indonesia yang rukun bukan utopia. Ia hidup, bergerak, dan bekerja bersama.
Dari sepeda yang dikayuh, dari tangan yang membersihkan lahir harmoni yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *