Ibadah Syukur di Tondano, Jati Diri Orang Minahasa Menurut Ketua Sinode GMIM

Ibadah Pengucapan Syukur Minahasa di Lapangan Samrat Tondano

Lapangan Sam Ratulangi (Samrat) Tondano menjadi tempat pelaksanaan ibadah pengucapan syukur yang digelar pada hari Minggu, 26 Juli 2026 pagi. Cuaca yang cerah memperkuat suasana penuh makna dalam acara tersebut. Lokasi ibadah berada di Kelurahan Wengkol, Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Banyak tokoh dan pejabat hadir dalam acara ini, termasuk Bupati Minahasa Robby Dondokambey bersama istri, Wakil Bupati (Wabup) Vanda Sarundajang, Danrem 131 Santiago, Sekda Minahasa Lynda Watania, Forkopimda Minahasa, FKUB Minahasa, serta para pejabat Pemkab Minahasa dan tamu undangan lainnya.

Ibadah dipimpin oleh Ketua Sinode GMIM, Pendeta Adolf Wenas. Dalam ibadah tersebut, dibacakan ayat Alkitab dari Yohanes 7:53 dan 8:1-11. Dalam khotbahnya, pendeta mengungkapkan bahwa pengucapan syukur bukan hanya sekadar tradisi makan dan minum, melainkan bentuk perwujudan jati diri, budaya, dan rasa syukur masyarakat Minahasa kepada Tuhan.

Pendeta Adolf Wenas menegaskan bahwa pengucapan syukur tidak boleh dilihat hanya sebagai kegiatan seremonial. “Jika hanya dilihat soal makan dan minum, bisa disebut pemborosan. Namun bagi saya, pengucapan syukur melebihi dari arti makan dan minum,” ujarnya.

Menurutnya, pengucapan syukur memiliki makna mendalam karena berkaitan dengan peradaban dan budaya orang Minahasa. “Ini bicara tentang jati diri orang Minahasa,” katanya. Ia menekankan bahwa pengucapan syukur mencerminkan nilai-nilai religius, kebersamaan, solidaritas, serta etos kerja masyarakat Minahasa yang harus terus dilestarikan.

Minahasa dikenal sebagai suku yang religius sejak dulu, karena selalu menganggap ada kuasa yang mengatur segala sesuatu. “Pengucapan syukur adalah bentuk rasa terima kasih kepada yang maha tinggi,” kata pendeta tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan agar berkat Tuhan diberikan pada tahun-tahun berikutnya.

Selain itu, pengucapan syukur juga menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Minahasa. “Etos kerja orang Minahasa sangat kuat, karena pengucapan syukur dilakukan karena adanya berkat dari Tuhan,” jelasnya.

Pendeta Adolf Wenas menegaskan bahwa pengucapan syukur merupakan bentuk perwujudan siapa kita sebagai orang Minahasa. “Kita adalah orang yang takut Tuhan dan menjujung tinggi kebersamaan,” tambahnya.

Dengan demikian, pengucapan syukur tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga menjadi simbol kepercayaan dan rasa syukur masyarakat Minahasa terhadap Tuhan. Acara ini menjadi momen penting untuk merayakan identitas dan nilai-nilai yang telah lama dijunjung oleh masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *