Kisah Haru Bupati Merangin Dari Kebun Duren Kepanggung MTQH, Mengenang Masa Lampau

Bangko, Forumnusantaranews.com-
Malam itu langit Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Manau, bertabur cahaya. Ribuan warga memadati arena untuk menyaksikan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits MTQH ke-52 tingkat Kabupaten Merangin, Sabtu (18/7/2026).
Namun di tengah kemegahan lampu sorot dan lantunan ayat suci, suasana berubah haru ketika Bupati Merangin M. Syukur berdiri di podium utama.
Kalimatnya menggantung. Dadanya naik turun. Napasnya tertahan. Air mata yang sejak awal ia tahan akhirnya menggenang di pelupuk mata. Ribuan pasang mata yang tadinya riuh, seketika hening.
Dengan suara parau, Bupati membuka kenangan yang selama puluhan tahun ia simpan rapat.
“Lokasi MTQH ini adalah kebun durian,” ucapnya, menyapu kesunyian malam.
“Dulu, waktu saya kecil… kalau saya dimarahi emak saya, nino nenek saya ngajaknya lari ke bukit ini. Kami cari durian di sini,” lanjutnya terbata.
Ia mengenang bagaimana jemari keriput sang nenek menggandeng tangannya, membelah semak dan menapaki bukit untuk mencari buah durian. Bukit itu dulu menjadi tempat pelarian seorang anak kecil yang hatinya sedang terluka karena dimarahi.
“Kini di atas tanah yang sama, tempat saya dulu mengadu dan menangis, berkumandang ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sungguh, ini takdir Allah yang luar biasa,” ungkapnya.
Warga yang mendengar langsung spontan mengumandangkan takbir. Beberapa bahkan terlihat mengusap air mata.
Keharuan belum selesai. Pandangan Bupati kemudian tertuju ke barisan kursi undangan. Di sana duduk seorang lelaki tua bersorban putih: Haji M. Nur, mamak kandungnya.
Dengan suara bergetar, M. Syukur membongkar siapa sosok dibalik kemegahan arena “Teras Siring” di atas bukit itu.
“Lapangan MTQ ini tidak dibangun oleh proyek pemerintah. Ini dibangun oleh masyarakat sini secara gotong royong. Yang mensponsori adalah mamak kesayangan saya, namanya Haji M. Nur,” ujarnya.
“Beliau hadir di sini malam ini… karena satu alasan sederhana: beliau pengen ponakannya sukses,” lanjut Bupati sambil menatap sang paman dengan mata berkaca-kaca.
Haji M. Nur hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Tepuk tangan bergemuruh dari ribuan warga. Bagi masyarakat tiga kecamatan di Sungai Manau, lapangan ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan bisa lahir dari keringat, doa, dan cinta keluarga.
Usai menenangkan diri, Bupati M. Syukur kembali ke substansi acara. Ia menegaskan MTQH ke-52 bukan sekadar kompetisi, tetapi ikhtiar besar untuk membumikan Al-Qur’an.
“MTQH ini adalah sarana kita untuk melahirkan generasi yang qurani. Kami ingin setiap desa punya semangat mengaji. Setiap keluarga menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian. Setiap anak Merangin bangga menjadi generasi yang dekat dengan Tuhannya,” tegasnya.
Ia juga mengaitkan dengan visi besar daerah Merangin Baru 2030.
“Merangin Baru harus dibangun oleh manusia yang berkualitas. Cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat akhlaknya. Karena sejarah membuktikan, bangsa yang besar akan runtuh jika moralnya rapuh. Tapi bangsa yang kokoh akhlaknya akan mampu bangkit dari segala tantangan,” katanya.
Di akhir sambutan, sekat antara pejabat dan rakyat seolah runtuh. Dengan nada tulus, Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak.
“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kecamatan Sungai Manau Lama, para kepala desa, alim ulama, pemuda, dan aparat yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan harta untuk suksesnya MTQH ke-52 ini. Semoga semua menjadi amal jariyah,” pungkasnya.
Pembukaan malam itu pun ditutup dengan pemukulan beduk bersama dan gemuruh kembang api. Di bawah langit Bukit Batu, dari tempat seorang anak kecil dulu mencari pelipur lara, kini lahir syiar yang menggema ke seluruh penjuru Merangin.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *