Konservasi Mangrove di Kabupaten Kendal
Wasito, seorang PNS di Pemerintahan Kabupaten Kendal, telah berjuang selama 26 tahun untuk menjaga lingkungan pesisir dari dampak abrasi. Ia telah menanam lebih dari 248 ribu tanaman mangrove di pesisir pantai utara Jawa. Awalnya, ia meluangkan waktu seminggu sekali untuk konservasi mangrove saat masih bekerja di Pemkab Demak. Ia berkeliling wilayah Pantura untuk menanam mangrove di kawasan pesisir, termasuk Kendal.
Setelah pindah dinas ke Pemkab Kendal pada 2024 lalu, aksi Wasito semakin masif. Dalam setiap kegiatannya, ia mengajak masyarakat sekitar, pelajar, mahasiswa, dan pecinta alam untuk bersama-sama menanam mangrove di sabuk pantai. Selain dengan warga dan dinas, Wasito juga bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Kendal (Imaken) yang terdiri dari para mahasiswa asal Kendal dari berbagai perguruan tinggi.
Bersama Imaken dan sukarelawan lain, penanaman mangrove semakin meluas. Menurut Wasito, ada sekitar 12 titik sepanjang pesisir Kendal yang ditanami mangrove, yaitu dari pesisir Kecamatan Kaliwungu, Brangsong, Patebon, Cepiring, Kangkung, dan Rowosari. Jenis mangrove yang biasa ditanam antara lain Rhizophora (bakau), Avicennia (api-api), Bruguiera (tancang), dan Casuarina equisetifolia (cemara laut). Ada juga jenis lain seperti Acanthus ilicifolius (jeruju).
“Saya ngajak sama yang mau, kalau enggak mau ya tidak apa-apa, tidak ada paksaan,” ujarnya. Wasito tinggal di Desa Kartikajaya dan prihatin dengan kondisi garis pantai yang semakin mundur. Ia merasakan kampungnya di Desa Kartikajaya Kecamatan Patebon Kendal kerap tergenang air rob. Genangan itu membuat niat Wasito semakin mantap bergerak. Dia melihat pesisir pantai semakin gersang dan tidak ada yang bergeak menginisiasi perubahan penghijauan.
Hati kecil Wasito menjadi lebih tergugah. Ia tak ingin pantai Kendal bernasib sama seperti pantai lain di sejumlah titik di Kecamatan Sayung, Demak, yang tenggelam disapu air laut lantaran permukaan tanahnya terus turun. “Konservasi pesisir harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penanaman mangrove, pembangunan sabuk pantai, serta pengaturan kawasan pesisir yang lebih ramah lingkungan,” paparnya.
Sayangnya, niatan mulia Wasito sering disambut nada pesimisme warga yang menanyakan urgensi dan manfaat dari penanaman mangrove. Bahkan keluarga kecil Wasito protes karena ia dinilai terlalu sibuk dengan aktivitas yang belum tentu bermanfaat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berhasil memberikan pemahaman tentang manfaat penanaman mangrove di lingkungan pesisir.
Sederet gerakan konservasi mangrove yang dilakukan Wasito perlahan dilirik banyak pihak. Ia diganjar penghargaan Bupati Kendal Award Kategori Pegiat Lingkungan Hidup pada 2015. Lima tahun kemudian, yakni 2020, ia dianugerahi Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bagi Wasito, penghargaan itu memacu dirinya dalam merawat dan mencintai alam terutama kawasan pesisir.
“Dulu saya kan pegawai di Pemkab Demak. Baru kemarin 2024 saya dipindah ke Kendal. Nah selama itu, setiap libur akhir pekan, saya bolak balik Demak-Kendal untuk nanam mangrove,” sambungnya.
Ancaman Rob Meluas
Keberhasilan Wasito menghijaukan pesisir pantai Kendal belum membuatnya tenang sepenuhnya. Ia masih menyimpan kekhawatiran dengan ancaman rob yang belum terkendali. Wasito memprediksi rob akan meluas hingga ke Alun-alun Kendal mulai tahun 2030-an. Prediksi ini didasarkan atas hilangnya garis pantai di hampir seluruh pesisir di Kendal yang berkurang setiap tahunnya.
Selain itu, Wasito juga menyebut terjadinya penurunan permukaan tanah atau land subsidence akibat penyedotan air tanah secara berlebihan, serta keberadaan aktivitas industri yang semakin meluas turut berpengaruh pada rob. “Kalau prediksi saya di tahun 2030-an itu rob mencapai Alun-alun Kendal,” kata Wasito.
Prediksi Wasito diperkuat penelitian yang dilakukan oleh B. Fadhlurrohman, Yoga Prasetyo, dan Nurhadi Bashit dari Universitas Diponegoro pada 2020. Dalam judul penelitian “Studi Penurunan Muka Tanah di Kawasan Industri Kendal dengan Metode Permanent Scatterer Interferometric Synthetic Aperature Radar (PS InSAR) menggunakan Citra Satelit Sentinel 1-A Tahun 2014-2019,” menyebutkan bahwa wilayah pesisir utara Kabupaten Kendal mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju rata-rata antara 2,8 hingga 3 cm per tahun.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Lutfiyatul Kamilan, tentang Analisis Proyeksi Penurunan Muka Tanah dan Sebaran Banjir Rob di Kabupaten Kendal Jawa Tengah tahun 2025. Dalam penelitian itu, disebutkan jika penurunan muka tanah yang terjadi di Kabupaten Kendal memiliki laju yang beragam, mulai dari 0,79 cm hingga 5,53 cm per tahun. Rata-rata laju penurunan muka tanah adalah 2,87 cm per tahun.
Wilayah yang mengalami penurunan muka tanah dengan laju tertinggi yaitu area pemukiman dan industri. Hal ini menandakan beban bangunan dapat mempercepat laju penurunan muka tanah. Penelitian itu juga menyebut proyeksi pada tahun 2030 berdasarkan hasil analisis penurunan muka tanah pada tahun 2025, menunjukkan secara akumulatif tanah mengalami penurunan hingga 14,36 cm.
Selain itu, berdasarkan proyeksi penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut, diprediksi kedalaman banjir rob pada tahun 2030 mencapai 138,23 cm dan menggenangi 10,68 persen dari wilayah Kabupaten Kendal.
Menurut Wasito, pembangunan giant sea wall merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak rob. Meski begitu, pembangunan itu tetap akan menimbulkan dampak positif dan negatif. “Dampak positifnya, rob teratasi tetapi dia akan bergeser mencari tempat yang lebih rendah. Dampak negatifnya, ya kalau banjir air tidak bisa keluar, jadi harus disediakan juga kolam retensi dan pompanya,” tandasnya.
Tinggalkan Balasan