Keajaiban Lantai Marmer di Masjidil Haram yang Tetap Sejuk Meski Suhu Tinggi
Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan dua tempat suci yang menjadi tujuan utama jutaan umat Islam dari seluruh dunia. Salah satu hal yang menarik perhatian jemaah adalah lantai marmer di area Mataf, yaitu pelataran yang mengelilingi Ka’bah. Meskipun suhu udara bisa mencapai 50 derajat Celsius pada siang hari, lantai tersebut tetap terasa sejuk.
Banyak orang awalnya berpikir bahwa kesejukan lantai tersebut berasal dari sistem pendingin tambahan seperti pipa air dingin yang dipasang di bawah permukaan. Namun, penjelasan dari Ustaz Ahmad Musyaddad, penerjemah khutbah resmi asal Indonesia yang bertugas di Masjidil Haram, membantah anggapan tersebut.
Menurutnya, kesejukan lantai Masjidil Haram bukan berasal dari teknologi pendingin tambahan, melainkan dari jenis marmer khusus yang digunakan. Ia menjelaskan bahwa lantai tersebut menggunakan marmer spesial bernama Thassos yang berasal dari Yunani. Pemilihan marmer ini dilakukan setelah para insinyur dan arsitek mencari material yang mampu memberikan kenyamanan bagi jemaah saat melakukan tawaf dan salat.
Asal Usul Marmer Thassos
Marmer Thassos berasal dari Pulau Thassos di Yunani, wilayah Laut Aegea yang dikenal sebagai penghasil marmer dolomit putih berkualitas tinggi. Pulau ini memiliki luas wilayah 380 km persegi dan sejak ratusan tahun lalu telah memproduksi marmer putih yang digunakan oleh orang Romawi. Warna putih cerah dari marmer ini memungkinkannya untuk memantulkan sinar matahari dengan baik, sehingga hanya menyerap sedikit panas dibandingkan material lainnya.
Pemerintah Arab Saudi secara khusus mengimpor marmer Thassos untuk digunakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pemilihan material ini sangat penting karena seluruh jemaah masuk ke area tersebut tanpa alas kaki. Oleh karena itu, kenyamanan suhu permukaan menjadi faktor utama dalam pemilihan material.
Teknik Pemasangan dan Perawatan
Pemasangan marmer Thassos di Masjidil Haram dimulai dengan memotong batu tersebut dalam bentuk persegi panjang dengan ketebalan 5 cm. Ketebalan ini turut berpengaruh pada kesejukan lantai. Setelah itu, marmer dipasang oleh tenaga kerja profesional yang berpengalaman agar dapat ditempatkan secara presisi di setiap sudutnya, sehingga memberikan kenyamanan bagi jemaah saat melintas.
Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Teknis, Operasional, dan Pemeliharaan Kepresidenan Umum Urusan Dua Masjid Suci, Eng. Fares Al-Saedi menjelaskan bahwa struktur pori-pori alami pada marmer memungkinkan material ini menyerap kelembapan dan udara dingin pada malam hari. Selanjutnya, marmer melepaskannya kembali saat siang hari, sehingga permukaannya tetap terasa lebih sejuk.
Beberapa penelitian ilmiah juga mendukung karakteristik ini. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Construction and Building Materials pada 2021 menyebutkan bahwa marmer Thassos memiliki tingkat reflektivitas sinar matahari yang tinggi serta konduktivitas termal yang mendukung pelepasan panas lebih cepat dibandingkan batu alam lainnya.
Perkembangan dan Perawatan Lantai Marmer
Selain fungsi teknisnya, penggunaan marmer Thassos juga menambah keindahan arsitektur Masjidil Haram. Area Mataf telah mengalami banyak perubahan sejak masa awal Islam. Lantai pelataran Ka’bah pertama kali dilapisi batu pada masa Dinasti Umayyah, kemudian diperbarui beberapa kali pada masa Abbasiyah hingga era modern.
Tahun 1978, Raja Khalid memerintahkan pemasangan marmer putih tahan panas dari Yunani sebagai bagian dari proyek perluasan besar Masjidil Haram. Proyek tersebut kemudian dilanjutkan pada masa Raja Fahd dengan perluasan pemasangan marmer dingin di area sekitar Ka’bah agar lebih nyaman bagi jamaah.
Hingga kini, pemeliharaan lantai marmer dilakukan secara rutin oleh tim teknisi dan insinyur. Lempengan yang sudah tidak optimal dalam menjaga suhu akan diganti agar kenyamanan jutaan jamaah tetap terjaga sepanjang tahun. Dengan demikian, keajaiban kesejukan lantai marmer di Masjidil Haram tetap terjaga dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi jemaah.
Tinggalkan Balasan