Nissan Motor 2025 Rugi Rp 59 Triliun, Tapi Klaim Kembali Untung Tahun Ini

Nissan Menghadapi Kinerja yang Tidak Menyenangkan, Namun Mulai Berupaya Pemulihan

Nissan Motor Co. masih mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir, namun perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Restrukturisasi agresif menjadi strategi utama untuk membangkitkan kembali kondisi perusahaan. Dalam laporan terbaru, Nissan mencatatkan kerugian bersih sebesar 533,10 miliar yen (sekitar Rp59,2 triliun) untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025. Ini merupakan tahun kedua berturut-turut perusahaan mengalami kerugian.

Kerugian tersebut terutama disebabkan oleh biaya restrukturisasi. Meskipun demikian, Nissan masih berhasil mencatat laba operasional sebesar 58,01 miliar yen (sekitar Rp6,4 triliun), meski mengalami penurunan sebesar 16,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan, dengan penjualan turun sebesar 4,9 persen menjadi 12,01 triliun yen (sekitar Rp1.333 triliun).

Pasar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja Nissan. Penjualan mobil di sana turun sebesar 3,4 persen menjadi 906 ribu unit. Secara global, penjualan Nissan turun sebesar 5,8 persen menjadi 3,15 juta unit. Di Jepang sendiri, penurunan lebih tajam, yaitu sebesar 13,5 persen menjadi 399 ribu unit.

Untuk mengurangi beban operasional, Nissan melakukan efisiensi besar-besaran. Perusahaan akan menutup tujuh pabrik kendaraan di Jepang dan luar negeri serta memangkas sekitar 20 ribu pekerjaan secara global hingga 2027. CEO Nissan, Ivan Espinosa, menyatakan bahwa progres restrukturisasi berjalan stabil. Ia mengklaim bahwa perusahaan telah mengalami perubahan drastis dalam setahun terakhir.

Dari segi penghematan biaya tetap, Nissan mengklaim telah menghemat sebesar 200 miliar yen (sekitar Rp22,2 triliun). Penghematan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme perusahaan. Namun, tekanan eksternal masih terasa. Tarif impor mobil Jepang ke AS sempat melonjak dari 2,5 persen menjadi 27,5 persen sebelum akhirnya turun menjadi 15 persen. Dampak tarif ini terhadap laba operasional Nissan mencapai 286 miliar yen (sekitar Rp31,7 triliun), angka yang lebih besar dari perkiraan awal perusahaan.

Meskipun menghadapi tantangan, Nissan tetap optimis dan menargetkan kembali untung pada tahun ini. Perusahaan memproyeksikan laba bersih sebesar 20 miliar yen (sekitar Rp2,2 triliun) dengan laba operasional yang melonjak menjadi 200 miliar yen (sekitar Rp22,2 triliun).

Di sisi lain, Nissan juga mulai memperkuat posisi dengan memanfaatkan teknologi AI. Sistem mengemudi otonom berbasis kecerdasan buatan akan dipasang di 90 persen model masa depan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk Nissan di pasar global.

Selain itu, hubungan antara Nissan dan Honda Motor Co. masih menjadi pertanyaan. Meskipun rencana merger batal, Nissan mengisyaratkan bahwa komunikasi dengan rivalnya itu belum benar-benar berhenti. Dengan langkah-langkah strategis yang diambil, Nissan berharap bisa bangkit dari krisis dan kembali menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *