Pengguna TransJakarta Setuju dengan Usulan Tarif Langganan Rp 200 Ribu per Bulan
Banyak pengguna setia TransJakarta menyambut baik usulan tarif langganan sebesar Rp 200.000 per bulan yang diajukan oleh Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) periode 2026-2028, Sugihardjo. Mereka berharap kebijakan ini dapat segera diwujudkan karena dinilai lebih hemat dan efisien untuk pengguna yang sering menggunakan layanan bus umum tersebut.
Pengalaman Pengguna yang Menggunakan TransJakarta Setiap Hari
Salah satu pengguna, Gita (27 tahun), mengatakan bahwa dirinya sangat setuju dengan rencana tersebut. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya membutuhkan mobilitas tinggi, sehingga hampir setiap hari ia menggunakan TransJakarta. Saat ini, Gita menghabiskan sekitar Rp 300.000 per bulan hanya untuk biaya transportasi. Jika tarif langganan benar-benar diterapkan, pengeluarannya akan jauh lebih rendah.
“Setuju banget. Karena memang aku kerjanya moving, berpindah-pindah dan memang setiap kemana-mana naiknya Transjakarta. Jauh lebih hemat kalau benar terjadi,” ujar Gita. Ia juga tidak mempermasalahkan kenaikan tarif reguler TransJakarta, karena selama ini tarif tersebut belum mengalami penyesuaian selama bertahun-tahun.
Keuntungan Tarif Langganan bagi Pengguna yang Rutin Berpergian
Fatimah (33 tahun) juga menyambut baik wacana ini. Ia mengaku akan langsung mendaftar jika paket langganan senilai Rp 200.000 per bulan benar-benar diterapkan. Fatimah biasanya menggunakan dua layanan TransJakarta, yaitu BRT dan non-BRT, untuk bekerja. Biaya yang dikeluarkan dalam sebulan mencapai sekitar Rp 350.000.
“Dengan paket langganan Rp 200.000, saya lebih memilih itu. Sebulan buat Transjakarta aja Rp 350.000 jadi kalau cuma daftar paket Rp 200.000 aku milih itu,” katanya. Menurut Fatimah, penghematan ini bisa digunakan untuk kebutuhan lain, seperti langganan bulan depan atau kebutuhan pribadi.
Penjelasan dari Ketua DTKJ
Sugihardjo, Ketua DTKJ, menjelaskan bahwa usulan tarif langganan ini diusulkan bersamaan dengan rencana penyesuaian tarif reguler TransJakarta menjadi Rp 5.000 untuk layanan BRT, non-BRT, dan Mikrotrans yang terintegrasi. Ia menegaskan bahwa skema langganan ini sudah umum diterapkan di negara-negara lain.
“Kita mendorong tarif langganan. Kan di luar negeri banyak tuh langganan,” ujar Sugihardjo. Perhitungan tarif langganan didasarkan pada asumsi pengguna melakukan perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam sebulan. Jika tarif harian adalah Rp 5.000 per perjalanan, maka total biaya dalam sebulan adalah Rp 250.000. Dengan demikian, DTKJ mengusulkan diskon sebesar 20 persen untuk pengguna yang memilih paket langganan.
Harapan Pengguna untuk Realisasi Tarif Langganan
Salma Fauziah (25 tahun), salah satu pengguna lainnya, juga menyambut baik wacana ini. Ia berharap usulan tersebut dapat segera direalisasikan agar bisa membantu masyarakat yang rutin menggunakan TransJakarta. Menurut Salma, penghematan biaya transportasi bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.
“Bisa buat langganan bulan depannya. Soalnya kerja uangnya habis sama ongkos,” ujarnya. Ia percaya bahwa pemerintah akan memberikan opsi yang lebih murah untuk pengguna yang sering menggunakan layanan TransJakarta.
Kesimpulan
Usulan tarif langganan TransJakarta sebesar Rp 200.000 per bulan mendapat dukungan kuat dari para pengguna. Mereka berharap kebijakan ini dapat segera diwujudkan sebagai solusi untuk mengurangi beban biaya transportasi. Dengan adanya tarif langganan, pengguna dapat menghemat uang mereka dan fokus pada kebutuhan lainnya.
Tinggalkan Balasan