Riset Kanker Serviks di Semarang: Deteksi Lebih Dini dengan AI

Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, upaya mempercepat deteksi dini kanker serviks kini mulai beralih ke penggunaan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Di Kota Semarang, sejumlah peneliti sedang mengembangkan metode diagnosis berbasis gambar dengan target akurasi hingga 95 persen.

Dr Meliana, salah satu peneliti yang terlibat dalam proyek ini, menjelaskan bahwa teknologi tersebut bekerja dengan menganalisis gambar hasil pemeriksaan serviks untuk mengidentifikasi pola kelainan yang bisa menjadi tanda awal kanker. “Selama ini pemeriksaan masih dilakukan secara manual melalui uji IVA. Dengan AI, kita dapat memproses citra tersebut agar lebih cepat dan efisien dalam mendeteksi indikasi kelainan,” jelasnya.

Sistem ini dibangun dari kumpulan data gambar yang telah diannotasi, lalu dipelajari oleh mesin untuk mengenali perbedaan antara kondisi normal dan patologis. Dengan demikian, proses diagnosis diharapkan menjadi lebih cepat dan akurat, sehingga pasien tidak terlambat dalam mendapatkan penanganan.

Harapan besar ditempatkan pada teknologi ini, karena angka kejadian kanker serviks masih tinggi dan menjadi penyebab utama kematian pada perempuan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat juga menjadi tantangan dalam upaya pencegahan. Banyak perempuan enggan melakukan pemeriksaan karena rasa malu atau kurangnya pemahaman akan gejala awal. “Jika dideteksi lebih awal, kanker serviks bisa dicegah dan ditangani dengan lebih baik,” tambahnya.

Tidak hanya fokus pada kanker serviks, penelitian lain juga sedang dilakukan untuk mengevaluasi faktor risiko preeklamsia pada ibu hamil di Kota Semarang. Proyek ini merupakan bagian dari upaya menekan angka kematian ibu. Namun, selain inovasi teknologi, isu ketergantungan sektor kesehatan terhadap impor juga menjadi perhatian serius.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), dr Renny Yuniati, menyatakan bahwa kondisi global seperti kenaikan nilai tukar dollar dapat langsung memengaruhi ketersediaan dan harga obat di dalam negeri. “Kenaikan dolar berdampak langsung pada harga obat, karena kita masih sangat bergantung pada impor bahan baku,” ujarnya.

Menurutnya, industri farmasi nasional belum sepenuhnya mandiri dan masih didominasi oleh pengemasan ulang bahan impor. Hal ini membuat harga obat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan berpotensi menekan daya beli masyarakat. “Tanpa upaya kemandirian, sektor kesehatan akan tetap rentan. Oleh karena itu, riset dan inovasi sangat penting,” tegasnya.

Ketua IKA Medica-Imesra Semarang Raya, dr Cipta Pramana, menambahkan bahwa pihaknya mendorong agar riset-riset kesehatan dapat langsung menjawab kebutuhan masyarakat. “Banyak penelitian berhenti di publikasi. Kami ingin riset bisa berlanjut ke tahap hilirisasi, yaitu produk atau metode yang bisa digunakan,” jelasnya.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan inovasi di bidang kesehatan. “Kita harus mulai dari kebutuhan. Dari situ baru diformulasikan jadi solusi,” tegasnya.

Kegiatan ini disampaikan dalam momentum silaturahmi Halal bi Halal yang juga dirangkaikan dengan peluncuran Yayasan Tri Dharma Cipta Cendekia (TDC) dan Jurnal Alumni FK Undip. Acara ini diselenggarakan oleh IKA Medica Undip Kompartemen Semarang Raya dalam rangka perayaan Idul Fitri 1447 H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *