Pertama di Indonesia, BRIN Tantang Ekosistem Nuklir AS

Pengembangan Teknologi Reaktor Nuklir di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mempertimbangkan ekosistem energi nuklir Amerika Serikat sebagai dasar pengembangan teknologi Small Modular Reactor (SMR) yang aman dan berkelanjutan di Indonesia. Negara tersebut dinilai memiliki berbagai referensi teknologi reaktor nuklir, termasuk hasil produksi dari perusahaan seperti NuScale, BWX Technologies, Kairos Power, serta X-Energy.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menyatakan bahwa kemajuan pengembangan SMR oleh sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat dapat menjadi pedoman dalam menentukan teknologi reaktor nuklir yang paling sesuai untuk Indonesia. Ia menekankan pentingnya kerja sama dalam penyiapan regulasi untuk berbagai model reaktor. “Ke depan diperlukan kerja sama dalam penyiapan regulasi untuk berbagai model reaktor,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Syaiful juga mengungkapkan bahwa BRIN ikut serta dalam kegiatan benchmarking ekosistem energi nuklir yang berlangsung di Amerika Serikat pada 20-24 April lalu. Program ini disebut sebagai sarana strategis untuk memperkuat komunikasi dalam menjajaki langkah konkret terkait kerja sama internasional untuk pengembangan nuklir di Indonesia.

Dalam forum tersebut, BRIN menegaskan perannya sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam aspek teknis dan ilmiah pengembangan energi nuklir nasional. BRIN telah menyatakan membuka diri untuk membangun PLTN pertamanya. Peran BRIN mencakup pemilihan teknologi, penentuan tapak, hingga penguatan sumber daya manusianya. “Sehingga Indonesia memiliki regulatory framework yang kuat dan siap ketika teknologi diimplementasikan,” kata Syaiful.

Prioritas Kerja Sama dan Studi Kelayakan

Selain itu, Syaiful menegaskan bahwa joint research and development (R&D) menjadi salah satu prioritas utama. Termasuk penyusunan studi kelayakan bersama antara Indonesia dan mitra internasional untuk menentukan teknologi yang paling sesuai. Proses ini akan memastikan bahwa setiap inisiatif yang diambil benar-benar cocok dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.

Ia juga menekankan perlunya skema pembiayaan yang tepat agar pembangunan PLTN dapat lebih efisien dan nilai levelized cost of electricity (LCOE) tetap kompetitif. “Simulator PLTN akan menjadi sarana penting untuk pelatihan, peningkatan kompetensi, serta edukasi publik, sekaligus mendukung kesiapan operator dan tenaga teknis di masa depan,” ucapnya.

Tawaran Pembangunan PLTN dari Berbagai Negara

Tawaran pembangunan PLTN pertama di Indonesia datang dari berbagai negara. Di antaranya adalah dari Rusia lewat Badan Usaha Energi Nuklir Rosatom yang telah mengajukan proposal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun lalu. Selain itu, negara lain seperti Inggris, Prancis, Jepang, Cina, dan Korea juga menunjukkan minat untuk berpartisipasi dalam proyek ini.

Pengembangan energi nuklir di Indonesia tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada keselamatan, regulasi, dan kesiapan masyarakat. Dengan pendekatan yang terencana dan kolaborasi yang kuat, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara yang mampu memanfaatkan energi nuklir secara optimal dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *