Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan mengalami penurunan pada perdagangan Senin (10/8). Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 25 poin menjadi Rp 17.897 per dollar AS pada perdagangan Jumat (7/8).
Menurut pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun luar negeri. “Pada perdagangan (10/8), rupiah cenderung fluktuatif namun akhirnya melemah di kisaran Rp 17.780 hingga Rp 18.020,” kata Ibrahim dalam pernyataannya yang diterima pada Senin (10/8).
Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen eksternal tetap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September. Hal ini didasarkan pada laporan Financial Times yang menyebutkan bahwa Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bersiap menaikkan biaya pinjaman jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang.
“Investor masih memantau arah kebijakan moneter The Fed, terutama berkaitan dengan perkembangan inflasi Amerika Serikat. Jika tekanan inflasi tetap tinggi, ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dollar AS dan memberikan tekanan terhadap rupiah,” jelasnya.
Selain itu, investor juga menantikan laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Data ketenagakerjaan ini dinilai sebagai indikator penting dalam menguji ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve.
Dari sisi domestik, kondisi fundamental eksternal Indonesia masih relatif stabil. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 sebesar USD 145,3 miliar, yang relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar USD 145,6 miliar.
Perkembangan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah. Namun, nilai tersebut juga dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan selama 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.
“Untuk sentimen domestik, posisi cadangan devisa yang tetap kuat menjadi salah satu penopang stabilitas rupiah. Namun, pasar tetap akan mencermati perkembangan global, khususnya kebijakan The Fed dan pergerakan dollar AS,” tambahnya.

















