Peran Guru dan Dosen dalam Era Kecerdasan Buatan
Dalam era yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI), muncul anggapan bahwa kemampuan AI untuk menjawab berbagai pertanyaan akan mengurangi peran guru dan dosen. Namun, menurut Profesor Husen Hendriyana, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI, logika ini tidak sepenuhnya benar. Ia menyatakan bahwa ketersediaan informasi tidak otomatis berarti pemahaman, dan pemahaman pun tidak selalu berarti kebijaksanaan dalam bertindak.
Menurut Husen, pendidikan memiliki alasan keberadaannya yang baru, bukan justru kehilangan alasan lama. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap kali teknologi baru muncul, seperti kalkulator, orang seringkali merasa bahwa peran guru akan berkurang. Namun, yang berubah bukanlah kebutuhan akan pendidik, melainkan tuntutan dari para pendidik itu sendiri.
Membangun Fondasi Pendidikan di Tiga Pilar
Husen menekankan pentingnya memperluas konsep survival skills dan resilience sebagai modal utama kurikulum masa depan. Namun, ia menilai bahwa pendekatan ini perlu diperluas agar tidak tereduksi menjadi hanya perbedaan fisik dan mental semata. Ia menyarankan bahwa fondasi pendidikan ke depan sebaiknya dibangun di atas tiga pilar yang saling mendukung:
-
Adaptabilitas
Adaptabilitas melibatkan kemampuan untuk membaca perubahan dan menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah. Ini bukan sekadar kemampuan bertahan hidup di alam bebas, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi perubahan di lingkungan sosial dan teknologi. -
Resiliensi
Resiliensi mencakup kemampuan mental, sosial, dan emosional. Menurut Husen, resiliensi tidak hanya tentang ketahanan psikologis individu, tetapi juga kemampuan untuk pulih dari kegagalan, mengelola kecemasan di tengah banjir informasi, serta membangun relasi sosial yang kuat saat menghadapi tekanan. -
Kebijaksanaan dan Penilaian
Meskipun AI bisa memberikan jawaban, ia tidak mampu menanggung konsekuensi dari jawaban tersebut. AI juga tidak memiliki tubuh yang merasakan dampak sosial dari sebuah keputusan atau posisi moral yang lahir dari pengalaman hidup nyata.
Pentingnya Pembimbingan Manusia
Kemampuan menilai mana informasi yang valid, mana yang bias, mana yang etis, dan mana yang relevan dengan konteks lokal adalah pekerjaan epistemik dan moral yang membutuhkan bimbingan manusia. Guru dan dosen tidak lagi bertugas sebagai penyimpan informasi, tetapi sebagai pemandu proses belajar.
Pendidikan yang sehat harus menyiapkan ruang bagi peserta didik untuk mengolah kegagalan, ambiguitas, dan tekanan kompetisi global tanpa kehilangan kestabilan diri. Melalui pendidikan, siswa belajar berargumen di depan orang yang bisa membantah balik, belajar berkolaborasi dengan orang yang berbeda pendapat, serta belajar menerima kekalahan dan kemenangan dalam konteks nyata.
Ruang Sosialisasi dan Jaringan Relasi
Menurut Husen, sekolah dan kampus bukan hanya tempat transfer informasi, tetapi juga ruang sosialisasi. Di sini, peserta didik belajar membangun jaringan relasi yang menjadi modal sosial sepanjang hidup. Tidak ada chatbot yang bisa menggantikan pengalaman emosional seperti ini.
Dengan demikian, meskipun AI semakin canggih, peran guru dan dosen tetap penting. Mereka tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan moral yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Tinggalkan Balasan