Pengusulan Sistem Lima Hari Belajar untuk Sekolah Dasar di Kabupaten Belitung
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Belitung, Tommy Wardiansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan usulan penerapan sistem lima hari belajar untuk jenjang sekolah dasar (SD). Usulan ini saat ini sedang dalam proses kajian dan akan diuji coba selama dua bulan sebelum ditetapkan sebagai kebijakan resmi.
Usulan tersebut berasal dari hasil kajian dan survei yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) PAUD, TK, dan SD di wilayah tersebut. Tommy menjelaskan bahwa untuk jenjang SMP di Kabupaten Belitung sudah menerapkan sistem lima hari belajar. Hasil kajian dari K3S kemudian diajukan kepada Disdikbud sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Hasil kajiannya sudah disampaikan kepada kami dan itu menjadi bukti dukung, bukti tambahan kepada Pak Bupati dalam mengambil rekomendasi berkaitan dengan pembelajaran 5 hari kerja,” ujar Tommy.
Dari hasil survei yang dilakukan K3S, tingkat dukungan terhadap penerapan sistem lima hari belajar untuk SD sangat tinggi. Persentase persetujuan mencapai antara 97 hingga 98 persen. Tommy menyatakan bahwa para kepala sekolah memberikan kajian lengkap beserta data survei yang menunjukkan dukungan besar dari komunitas pendidikan.
Bupati Belitung memberikan respons positif terhadap usulan tersebut. Namun, penerapannya tidak langsung dilakukan secara penuh. Sebaliknya, pemerintah daerah memutuskan untuk melakukan uji coba selama dua bulan. Hal ini bertujuan untuk melihat dampak dan efektivitas sistem tersebut sebelum diterapkan secara permanen.
“Beliau memberikan tanggapan positif, akan dikaji dulu, sekaligus dicoba dulu selama dua bulan. Nanti akan dilihat seperti apa penerapannya,” jelas Tommy.
Menurut Tommy, kajian awal sangat penting agar kebijakan yang diterapkan tidak hanya berdasarkan keinginan semata. Dengan demikian, saat implementasi berjalan, tidak lagi muncul perdebatan terkait setuju atau tidak setuju.
“Kami memang mengharapkan adanya kajian di awal, bukan hanya sebatas keinginan saja. Jadi nanti saat penerapan tidak lagi membahas setuju atau tidak setuju,” ucap Tommy.
Selain itu, rencana penerapan sistem lima hari belajar ini dinilai sejalan dengan efisiensi dan integrasi program nasional. Salah satu contohnya adalah program makan bergizi gratis (MBG), yang lebih mudah diimplementasikan dengan sistem lima hari kerja. Tommy juga menyebutkan bahwa penyesuaian jam belajar mengajar akan dilakukan, misalnya 37,5 jam per minggu.
“Kami juga akan mengatur penyesuaian jam belajar mengajar, misalnya 37,5 jam dan lainnya. Apalagi guru ASN juga ada tunjangan, jangan sampai perubahan ini tidak memenuhi ketentuan. Nanti detailnya disesuaikan dengan aturan teknis yang ada,” katanya.
Dengan adanya kajian mendalam dan uji coba, pihak Disdikbud berharap sistem lima hari belajar dapat diterapkan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa serta guru. Proses ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam pengambilan keputusan dan tidak ada kesenjangan informasi atau ketidakpuasan di masa depan.
Tinggalkan Balasan