Gubernur Bank Indonesia Jelaskan Penyebab Pelemahan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan laporan mengenai perkembangan nilai tukar rupiah kepada Presiden saat mengunjungi Istana. Dalam pertemuan tersebut, ia menjelaskan alasan pelemahan mata uang Garuda meskipun pertumbuhan ekonomi tetap kuat.
Rupiah terus mengalami tekanan dan sempat mencapai level terendah dalam sejarahnya. Bahkan, rupiah tertinggal dibandingkan mata uang negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,17% menjadi Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Perry menerima arahan langsung dari Presiden mengenai stabilitas nilai tukar. Ia menekankan bahwa secara fundamental, rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya. Namun, ia yakin bahwa ke depan rupiah akan kembali stabil dan bahkan menguat.
“Nilai tukar sekarang itu undervalue. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” jelas Perry.
Menurutnya, kondisi ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit yang solid, serta cadangan devisa yang tetap kuat.
“Fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, kredit tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Ini menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat,” tambah Perry.
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan musiman. Dari sisi global, tekanan datang dari harga minyak dunia yang tinggi serta kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Perry mencatat, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,47%, yang turut memperkuat dolar AS dan mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Terjadi pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia,” katanya.
Selain itu, faktor musiman juga turut menekan rupiah, terutama pada periode April hingga Juni. Pada periode ini, permintaan valas meningkat seiring kebutuhan pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan devisa untuk keberangkatan jemaah haji.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap optimistis bahwa tekanan tersebut bersifat sementara. “Rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegas Perry.
Tinggalkan Balasan