Iran Mengumumkan Otoritas Penuh atas Selat Hormuz
Iran telah mengumumkan bahwa semua kapal komersial dan kapal tanker minyak harus melalui rute yang ditentukan dan mendapatkan otorisasi dari Angkatan Laut IRGC. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yaitu komando militer gabungan tertinggi di negara tersebut. Komando ini menegaskan bahwa pengelolaan jalur air strategis tersebut sedang dikendalikan “dengan otoritas penuh” oleh angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, merupakan salah satu chokepoint maritim paling penting di dunia. Jalur ini menjadi jalur utama bagi sebagian besar pasokan minyak global dan pengiriman gas alam cair. Dengan posisi strategisnya, selat ini sangat penting bagi stabilitas ekonomi global.
Pernyataan resmi Iran juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap aturan yang berlaku akan membahayakan keamanan kapal secara serius. Selain itu, Iran memperingatkan kapal-kapal militer asing agar tidak ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz atau mengganggu navigasi di jalur air tersebut. Menurut pernyataan itu, setiap upaya kapal militer untuk ikut campur dalam pengelolaan selat atau mengganggu navigasi akan menjadi sasaran angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Tegangan Regional Meningkat
Tegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Februari 2026. Iran merespons dengan menargetkan Israel serta sekutu AS di Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan dan kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu.
Namun, setelah negosiasi terhenti yang dimediasi oleh Islamabad, AS memberlakukan blokade di pelabuhan Iran sejak 13 April, termasuk yang terletak di sepanjang Selat Hormuz yang strategis. Upaya mediasi sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik antara para pihak.
AS Klaim Tembak Kapal Dagang
Militer AS menghentikan sebuah kapal dagang yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran dengan menembakkan rudal ke ruang mesinnya. Peristiwa ini disampaikan oleh Komando Pusat AS pada hari Sabtu. Kapal kargo berbendera Gambia, Lian Star, mengabaikan lebih dari 20 peringatan dari pasukan AS saat mencoba memasuki pelabuhan Iran. Militer AS menyatakan bahwa kapal tersebut tetap terombang-ambing di Teluk Oman dan pasukan AS belum menaikinya.
Dengan aksi terbaru ini, militer AS telah menghentikan enam kapal yang mencoba menerobos blokade. Satu kapal diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Sebanyak 116 kapal lainnya telah dialihkan, kata militer. Blokade AS bertujuan untuk membatasi pengiriman barang Iran sendiri dan semakin melemahkan aksesnya terhadap uang tunai, sehingga menambah penderitaan bagi perekonomiannya yang sudah melemah sejak lama.
Persoalan Ekonomi Global
Peristiwa di Selat Hormuz, jalur air utama antara Iran dan Oman, telah mengguncang perekonomian global. Pengiriman sejumlah besar minyak, gas alam, dan pasokan terkait seperti pupuk sebagian besar terhenti, meningkatkan tekanan pada konsumen dan produsen pangan.
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan para penasihatnya pada hari Jumat tetapi belum memutuskan apakah akan melanjutkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali selat tersebut. Sementara itu, Iran mengatakan kesepakatan itu belum final. Lalu lintas komersial diam-diam terus mengalir melalui selat tersebut, meskipun Iran menyatakan bahwa mereka harus menyetujui setiap transit, meskipun dengan volume yang jauh lebih rendah daripada sebelum perang.
“Pelanggaran apa pun terhadap peraturan ini akan membahayakan keamanan jalur pelayaran mereka secara serius,” kata komando militer gabungan Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, memperingatkan bahwa kapal militer mana pun yang mencoba mengganggu hal itu akan menjadi sasaran.
Biaya Transit yang Tinggi
Iran bahkan mengenakan biaya transit hingga 2 juta dolar AS, yang oleh para ahli disebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip perdagangan maritim internasional: kebebasan navigasi yang damai. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran berusaha memperkuat kendali atas jalur vital ini, meski terdapat banyak kritik dari komunitas internasional.
Tinggalkan Balasan