Penjelasan Kepala Bakom RI Mengenai Kunjungan Presiden ke Luar Negeri
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari memberikan respons terhadap kritik yang disampaikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Dino menyoroti frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto dan mengusulkan beberapa langkah untuk meningkatkan efisiensi serta transparansi dalam aktivitas diplomatik.
Qodari menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan oleh Dino. Ia menegaskan bahwa setiap perjalanan Presiden selalu didasarkan pada prinsip manfaat bagi bangsa dan negara. “Kita sangat menghargai saran-saran yang relevan,” ujarnya. Menurutnya, kebijakan perjalanan luar negeri diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk potensi kerja sama strategis antar negara.
Salah satu kunjungan yang dilakukan adalah ke Prancis, yang bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral di berbagai sektor seperti alutsista dan logam langka. Qodari menjelaskan bahwa kunjungan tersebut sudah direncanakan jauh-jauh hari dan melibatkan pembahasan yang mendalam.
Saran-Saran dari Dino Patti Djalal
Dino Patti Djalal, yang juga merupakan founder and chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menyampaikan lima saran kepada Presiden Prabowo Subianto. Pertama, ia menyarankan penggunaan komunikasi virtual seperti video call atau zoom call sebagai alternatif kunjungan langsung. Menurut Dino, hal ini dapat menghemat biaya besar yang biasanya digunakan dalam perjalanan ke luar negeri. Contoh yang diberikan adalah Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang lebih sering melakukan komunikasi telepon daripada pertemuan langsung dengan Presiden AS Donald Trump.
Kedua, Dino menyarankan agar Presiden memanfaatkan kesempatan di forum internasional untuk bertemu kepala negara lain. Ia mencontohkan kasus Presiden Finlandia Alexander Stubb yang tidak pernah direspons saat meminta waktu untuk bertemu Presiden Prabowo.
Ketiga, Dino menekankan pentingnya perencanaan yang baik dan transparan dalam kunjungan internasional. Ia menilai ada beberapa kunjungan yang dilakukan secara spontan tanpa tujuan jelas. Untuk itu, ia mengusulkan agar rencana kunjungan diumumkan sebelumnya dan bersamaan dengan negara yang dikunjungi.
Keempat, Dino menyarankan Presiden lebih banyak menerima tamu negara di dalam negeri daripada melakukan perjalanan ke luar negeri. Contohnya adalah Presiden China Xi Jinping yang lebih sering menerima tamu di Beijing.
Kelima, Dino mengusulkan agar sebagian misi diplomatik taktis dioper ke Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurutnya, hal ini akan menghemat biaya karena rombongan Menlu lebih sedikit dibandingkan rombongan Presiden.
Tanggung Jawab Moral dan Harapan Rakyat
Dino menegaskan bahwa saran-sarannya disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan suara rakyat. Ia menyatakan bahwa masyarakat kini lebih mengharapkan kepekaan dan kepatutan dari pemimpin dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Dino menilai bahwa dalam situasi gejolak dunia, kemegahan protokoler tidak lagi menjadi prioritas utama.
Ia juga mencontohkan para mantan Menteri Luar Negeri seperti Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi yang fokus pada politik luar negeri tanpa menjadi bagian dari rombongan pengiring Presiden.
Dengan demikian, Dino berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mempertimbangkan saran-saran tersebut untuk menciptakan kebijakan diplomatik yang lebih efisien dan sesuai dengan harapan publik.
Tinggalkan Balasan