PIN Perdosni tingkatkan inovasi layanan saraf berbasis sains dan teknologi

Pertemuan Ilmiah Nasional PERDOSNI 2026 di Makassar: Titik Awal Penguatan Layanan Neurologi

Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) Perhimpunan Dokter Neurologi Indonesia (PERDOSNI) 2026 yang digelar di Makassar menjadi momen penting dalam upaya penguatan layanan neurologi berbasis sains dan teknologi. Dengan tema “Neurology at the Forefront: Integrating Science, Technology, and Comprehensive Care”, kegiatan ini menyoroti peran inovasi dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit saraf seperti stroke, epilepsi, demensia, dan Parkinson.

Tantangan yang muncul dinilai tidak lagi bisa ditangani hanya dengan pendekatan konvensional. Oleh karena itu, PIN kali ini dirancang untuk memberikan dampak langsung pada kualitas layanan kesehatan. Ketua Panitia, dr. Ummu Atiah, Sp.N(K), menjelaskan bahwa acara ini bukan hanya forum akademik, tetapi juga ruang untuk mempercepat kolaborasi dan adopsi inovasi di bidang neurologi.

Ratusan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk dokter spesialis, dokter umum, peneliti, hingga pelaku industri kesehatan, hadir dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung dari 29 April hingga 3 Mei 2026. Agenda yang disajikan mencakup simposium, workshop klinis, diskusi kebijakan, serta presentasi riset terbaru.

Ketua Umum PERDOSNI, Dr.dr. Dodik Tugasworo, Sp.N., menekankan pentingnya pemerataan layanan neurologi. Pemilihan Makassar sebagai tuan rumah dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat akses layanan di kawasan timur Indonesia sekaligus memperluas jejaring nasional.

Selain aspek ilmiah, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi Makassar. Kehadiran peserta dari berbagai daerah turut menggerakkan sektor pariwisata, kuliner, dan industri kreatif lokal. Selain itu, PERDOSNI juga memperkenalkan narasi besar bertajuk “Otak Sehat, Negara Kuat”. Gagasan ini menempatkan kesehatan otak sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Permasalahan neurologi memiliki dampak luas, baik terhadap individu maupun produktivitas nasional dan beban pembiayaan kesehatan. Oleh karena itu, pendekatan yang diusung bukan hanya bersifat klinis, tetapi juga lintas sektor dan berbasis kebijakan. Beberapa agenda strategis telah dirumuskan, antara lain penguatan pencegahan dan deteksi dini, pemerataan layanan, integrasi teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Hasil dari forum akan dirumuskan dalam bentuk rekomendasi kebijakan nasional dan peta jalan pengembangan layanan neurologi hingga 2030. PIN PERDOSNI 2026 diharapkan menjadi pijakan penting untuk mendorong layanan saraf yang lebih merata, modern, dan berbasis bukti di Indonesia. Dengan komitmen kuat dari para ahli dan stakeholder, harapan besar terletak pada kemampuan PERDOSNI untuk membawa perubahan nyata dalam dunia neurologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *