PLN Umumkan Tender Giga One, Pengusaha Listrik Antusias Proyek PLTS 1,22 GW

Inisiatif Baru PLN dalam Pengembangan Energi Terbarukan

PT PLN (Persero) telah meluncurkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diberi nama Mentari Nusantara I. Proyek ini memiliki total kapasitas sebesar 1,225 gigawatt (GW). Proyek ini dikembangkan melalui skema pengadaan terintegrasi dengan nama “Giga One”. Skema ini merupakan inovasi baru dalam model pengadaan pembangkit energi terbarukan skala besar.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa Giga One adalah terobosan dalam pengadaan energi terbarukan. Melalui pendekatan bundling atau konsolidasi sejumlah proyek dalam satu paket strategis, PLN berupaya meningkatkan skala keekonomian dan memberikan kepastian proyek yang lebih baik bagi investor. Pendekatan ini dirancang untuk mempercepat realisasi proyek energi bersih sekaligus memperkuat daya tarik investasi di sektor ketenagalistrikan nasional.

Darmawan menambahkan bahwa pendekatan ini membuat aspek keekonomian proyek jauh lebih bankable, kepastian proyek meningkat, serta proses pengadaan hingga konstruksi menjadi lebih efisien.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar menegaskan bahwa pengadaan PLTS Mentari Nusantara I melalui Giga One adalah program utama yang akan mendukung target pemerintah membangun PLTS berkapasitas 100 GW. Proyek ini tidak hanya sekadar pembangunan pembangkit, tetapi juga pengembangan ekosistem industri energi bersih yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Penyebaran Proyek di Berbagai Wilayah Indonesia

PLTS Mentari Nusantara I dengan kapasitas 1,225 GW akan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Wilayah proyek ini mencakup Sumatra dengan kapasitas 35 MW, Kalimantan (340 MW), Jawa (600 MW), Sulawesi (50 MW), Nusa Tenggara Barat (80 MW), serta Maluku dan Papua (120 MW). Seluruh proyek ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada 2029.

Proses tender PLTS Mentari Nusantara I ini resmi dimulai pada 30 April 2026. Meski demikian, PLN belum merinci mengenai periode tender, target awal konstruksi proyek, maupun estimasi total investasi yang dibutuhkan.

Respons Positif dari Pelaku Usaha

Pelaku usaha di sektor ketenagalistrikan menyambut proyek PLTS jumbo dari PLN. Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Eka Satria memandang peluncuran PLTS Mentari Nusantara I melalui skema Giga One sebagai langkah konkret untuk mempercepat transisi energi. Menurut Eka, skala proyek ini signifikan karena dapat menjadi benchmark baru pengadaan PLTS skala besar di Indonesia.

Eka menilai proyek ini berpotensi menarik minat dari investor maupun produsen listrik swasta alias Independent Power Producer (IPP). Namun, minat investor akan sangat bergantung pada struktur tender dan bankability proyek.

Faktor yang Perlu Diperhatikan oleh Investor

Pelaku usaha akan mencermati sejumlah hal dalam proyek PLTS jumbo ini. Termasuk kejelasan lokasi dan kesiapan lahan, kapasitas grid atau evakuasi daya, skema tarif, tenor dan kepastian Power Purchase Agreement (PPA), risiko curtailment, kewajiban Battery Energy Storage System (BESS) bila ada, persyaratan TKDN, pembagian risiko konstruksi dan operasi, serta kepastian pembayaran atau offtake dari PLN.

Harapan APLSI, proyek ini dapat menjadi contoh pengadaan yang transparan, kompetitif, dan bankable, sehingga mampu menarik partisipasi IPP nasional maupun internasional. Dengan desain yang tepat, PLTS Mentari Nusantara I tidak hanya menambah kapasitas EBT (Energi Baru dan Terbarukan), tetapi juga mendorong industri dalam negeri dan memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor kelistrikan Indonesia.

Komentar dari Pakar Ekonomi

Head of Industrial & Transport Decarbonization Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho melihat tender proyek PLTS skala jumbo melalui skema Giga One ini bisa menjadi tonggak transformasi transisi listrik berbasis EBT. Menurut Andry, semestinya PLN maupun pemerintah sudah bisa memetik pelajaran dari proyek-proyek PLTS sebelumnya, agar proyek PLTS Mentari Nusantara I bisa berjalan sesuai target.

Andry menyoroti sejumlah faktor yang akan menentukan partisipasi dari investor dan IPP. Mulai dari kejelasan struktur perjanjian jual beli tenaga listrik (PPA), alokasi risiko, kesiapan lahan dan infrastruktur di wilayah proyek, ketentuan TKDN, kepastian tarif dan formulanya, serta kepastian regulasi dan insentif.

Dukungan untuk Industri Dalam Negeri

Andry menekankan pentingnya dukungan terhadap pelaku industri dalam negeri yang ingin berpartisipasi dalam proyek PLTS Mentari Nusantara I, khususnya untuk pengembangan ekosistem industri surya nasional. Jika tidak ada dukungan atau proteksi dari pemerintah, Andry khawatir produsen panel surya lokal akan tertekan oleh gempuran produk impor, terutama yang berasal dari China.

Pengembangan PLTS bisa membawa dampak ganda bagi ekonomi. Di samping peluang untuk menumbuhkan industri manufaktur dalam negeri, penambahan kapasitas PLTS bisa mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis energi fosil yang membutuhkan subsidi dengan biaya tinggi. Dalam hal ini, Andry menyoroti program dedieselisasi untuk menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan PLTS dan BESS. Dengan lonjakan harga bahan bakar minyak saat ini, biaya pokok produksi PLTS akan mendongkrak beban subsidi dan ikut menekan kapasitas fiskal pemerintah.

Menggantikan PLTD dengan PLTS bisa membawa dampak positif terhadap fiskal serta membuka pasar bagi proyek-proyek yang pada akhirnya bisa berdampak kepada produsen lokal. Jadi harapannya ini bisa menjadi “low hanging fruit” yang bisa dimanfaatkan untuk industri domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *