Prakiraan cuaca Indonesia 21-27 Juli 2026: Puncak musim kemarau kian dekat, waspadai cuaca ekstrem

Ringkasan Berita:

  • BMKG memprakirakan musim kemarau semakin mendominasi Indonesia pada 21–27 Juli 2026, meski hujan lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah.
  • Aceh, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, sementara angin kencang diprakirakan melanda banyak daerah.
  • Masyarakat diimbau mewaspadai cuaca ekstrem, menjaga kesehatan saat cuaca panas, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan semakin didominasi kondisi musim kemarau pada periode 21 hingga 27 Juli 2026.

Curah hujan diprediksi cenderung rendah di banyak daerah seiring memasuki puncak musim kemarau. 

Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah akibat dinamika atmosfer yang masih aktif.

Berdasarkan analisis iklim terbaru, fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) terus meluas di berbagai daerah. 

Sebanyak 331 titik pengamatan telah mengalami HTH kategori sangat panjang atau berlangsung selama 31 hingga 60 hari. 

Kondisi tersebut mendominasi sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta meluas ke beberapa wilayah di Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

Tidak hanya itu, BMKG juga mencatat enam titik pengamatan telah memasuki kategori HTH ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari. 

Wilayah tersebut berada di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. 

Fenomena ini menjadi salah satu indikator bahwa musim kemarau tahun 2026 terus menguat di sejumlah kawasan Indonesia.

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan berlangsung secara bertahap. 

Pada Juli 2026, sekitar 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau. 

Jumlah tersebut akan meningkat signifikan pada Agustus menjadi 369 ZOM atau hampir setengah wilayah Indonesia, kemudian berlanjut pada September dengan 169 ZOM atau sekitar seperempat wilayah Indonesia.

Kondisi kering tersebut turut diperkuat oleh fenomena El Niño yang hingga kini masih aktif. 

Nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat mencapai +1,47, sementara nilai Southern Oscillation Index (SOI) juga masih menunjukkan karakteristik yang mendukung penguatan El Niño. 

Kehadiran fenomena ini membuat peluang hujan berkurang di banyak wilayah sekaligus meningkatkan potensi kekeringan selama musim kemarau.

Meski demikian, pola cuaca tidak sepenuhnya kering.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih tercatat di sejumlah daerah, seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Utara, dan Riau. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang meningkatkan pasokan uap air ke wilayah Indonesia bagian barat dan utara.

Dinamika Atmosfer Masih Memicu Hujan Lokal

Memasuki dasarian ketiga Juli, sekitar 76,54 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah. 

Curah hujan kategori menengah diperkirakan mencakup 23,36 persen wilayah, sedangkan hujan kategori tinggi hanya sekitar 0,09 persen.

Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi relatif kering meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

Di sisi lain, sejumlah fenomena atmosfer masih mampu memicu pembentukan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi bergerak ke wilayah selatan Indonesia. 

Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan, sedangkan Gelombang Kelvin masih aktif di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

BMKG juga memantau adanya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua yang berpotensi memperkuat pembentukan daerah belokan angin dan meningkatkan suplai uap air. 

Dengan suhu muka laut yang masih relatif hangat, peluang terbentuknya awan hujan tetap ada meskipun musim kemarau semakin dominan.

Prakiraan Cuaca 21–23 Juli 2026

Mengutip dari laman bmkg.go.id, pada periode 21 hingga 23 Juli, kondisi cuaca secara umum diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan.

Namun, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di:

  • Aceh
  • Sumatra Utara
  • Sumatra Barat
  • Riau
  • Kepulauan Riau
  • Jambi
  • Sumatra Selatan
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Bengkulu
  • Jawa Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Selatan
  • Papua Pegunungan

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat dengan status Siaga untuk Sulawesi Tengah.

Selain itu, potensi angin kencang diprakirakan melanda:

  • Aceh
  • Sumatra Barat
  • Bengkulu
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Lampung
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • DI Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Selatan
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
  • Papua Selatan

Prakiraan Cuaca 24–27 Juli 2026

Pada periode 24 hingga 27 Juli, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.

Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang diperkirakan berpotensi terjadi di:

  • Aceh
  • Sumatra Barat
  • Riau
  • Kepulauan Riau
  • Bengkulu
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Papua

Potensi angin kencang masih perlu diwaspadai di:

  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Sumatra Selatan
  • Lampung
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • DI Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tenggara
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
  • Papua Selatan

BMKG Imbau Masyarakat Tetap Waspada

BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau yang semakin meluas berpotensi meningkatkan suhu udara dan membuat kondisi lingkungan menjadi lebih kering. 

Masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta menghindari aktivitas berat pada siang hari untuk mengurangi risiko dehidrasi maupun kelelahan akibat cuaca panas.

Di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan juga perlu ditingkatkan. 

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah sembarangan karena dapat memicu meluasnya titik api, terutama di kawasan gambut dan lahan kering.

Di sisi lain, meskipun musim kemarau mendominasi, hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. 

Oleh sebab itu, masyarakat tetap diminta mewaspadai kemungkinan pohon tumbang, baliho roboh, genangan air, serta sambaran petir saat cuaca memburuk.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang bersifat dinamis selama periode 21–27 Juli 2026.

(/Farra)

Artikel Lain Terkait Prakiraan Cuaca BMKG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *