B50 Memasuki Masa Transisi, Pemerintah Siap Implementasi B60

Pemerintah Berkomitmen pada Pengembangan Biodiesel dan Energi Berkelanjutan

Pemerachtan pengembangan biodiesel di Indonesia terus berjalan dengan target yang lebih tinggi. Saat ini, pemerintah sedang melakukan transisi dari B40 ke B50 sebagai bagian dari program hilirisasi energi. Namun, rencana jangka panjangnya adalah implementasi biodiesel B60 pada tahun 2028. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor energi nasional.

Kenaikan produksi minyak sawit menjadi salah satu faktor utama dalam mendorong pengembangan biodiesel. Produksi sawit Indonesia mengalami lonjakan signifikan, yaitu sebesar 7 juta kiloliter (KL) dalam periode 2024 hingga 2025. Angka ini setara dengan hampir 15 persen dari rata-rata produksi nasional sebesar 50 juta KL. Dida Gardera, Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Perekonomian RI, menyatakan bahwa kenaikan ini menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mengakselerasi program hilirisasi biodiesel B50.

“Produksi sawit kita meningkat sekitar 7 juta KL dalam waktu satu tahun. Ini adalah indikator positif yang sangat penting,” ujar Dida dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) di Borobudur Hotel, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Dida juga menyebut bahwa keberhasilan Indonesia dalam sektor bahan bakar nabati semakin mendapat perhatian internasional. Contohnya, kunjungan dari Presiden New Development Bank (NDB) yang juga mantan Presiden Brazil. Dalam pertemuan tersebut, NDB menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia karena sudah menerapkan B40.

Meski saat ini program mandatori B50 masih dalam masa transisi dan akan berlaku secara masif pada Oktober 2026, pemerintah telah menetapkan target lain. Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia berjanji untuk menerapkan biodiesel B60 pada tahun 2028. Namun, Dida menegaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dikerjakan sebelum target tersebut tercapai.

Fokus pada Hilirisasi Energi dan Riset Masa Depan

Untuk mendukung target B60, fokus hilirisasi tidak hanya terpaku pada biodiesel untuk kendaraan darat. Pemerintah bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) kini gencar mendorong riset masa depan, termasuk pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur kelapa sawit serta bensin sawit.

“Isu sentral dari sawit kita saat ini sudah semakin dominan ke arah ketahanan energi. Potensi pengembangannya masih sangat besar dan bisa dibilang tidak ada satu tetes pun dari sawit ini yang terbuang sia-sia. Semuanya bernilai ekonomi,” kata Dida.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Kementerian Pertanian RI Heru Tri Widarto juga menyambut baik langkah pemerintah dalam mengembangkan biodiesel B60. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak di industri ini harus siap menghadapi implementasi B60 yang melibatkan setiap stakeholder.

“Komitmen kami peningkatan produksi untuk memenuhi B50 bahkan B60 itu juga sudah ada,” ucap Heru.

Peluncuran Biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (8/7/2026). Peluncuran ini menandai dimulainya penerapan B50 secara nasional setelah sebelumnya diberlakukan sejak 1 Juli 2026. Indonesia disebut menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan BBM B50 secara nasional.

BBM B50 merupakan campuran antara 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME) dengan 50 persen solar murni. Proyeksi dari program ini adalah mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Berupa Minyak Solar Sebesar 50 persen dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan.

BBM B50 telah menjalani serangkaian uji teknis dan uji jalan pada berbagai sektor sejak Desember 2025 dengan hasil performa dan emisi yang memenuhi standar pabrikan. Uji laboratorium dilakukan pada awal 2025, kemudian uji penggunaan pada mesin diesel di sektor otomotif, mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan kereta api.

Kebijakan pencampuran solar murni dengan minyak sawit ini ditargetkan menghemat devisa negara Rp 157 triliun dan subsidi Rp48 triliun per tahun. Selain itu, BBM B50 diproyeksikan mampu menyerap 2,2 juta tenaga kerja dan memangkas 46,72 juta ton emisi karbon.

Pemerintah juga menyiapkan masa transisi bertahap dari B40 menuju B50. Pada Juli hingga September 2026, distribusi B50 akan dilakukan secara bertahap sambil tetap memanfaatkan stok B40 yang masih berjalan. Target penyaluran B50 secara penuh ditetapkan tercapai pada Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *