BMKG Pastikan Cuaca Ekstrem di Krayan Bukan Angin Puting Beliung
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memastikan bahwa fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, bukan disebabkan oleh angin puting beliung. Hasil analisis meteorologis menunjukkan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh angin kencang akibat proses downdraft dari awan Cumulonimbus saat hujan lebat terjadi.
Pemahaman ini diperoleh setelah BMKG melakukan peninjauan dan pengamatan terhadap kondisi cuaca serta dokumentasi video selama kejadian. Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring Long Bawan, Darso Purnanto, melalui Tim Forecaster Reza, tidak ditemukan ciri khas puting beliung seperti pusaran angin yang berputar.
Penyebab Angin Kencang
Reza menjelaskan bahwa awan Cumulonimbus sering kali menghasilkan proses downdraft, yaitu hembusan angin yang sangat cepat dari dalam awan menuju permukaan bumi. Proses ini bisa memicu angin kencang yang terjadi bersamaan dengan hujan berintensitas tinggi.
“Proses downdraft pada awan Cumulonimbus menyebabkan angin kencang saat hujan berlangsung,” ujarnya. Ia menekankan bahwa fenomena ini berbeda dengan angin puting beliung, yang selalu ditandai dengan gerakan angin yang berputar. Dari hasil pengamatan BMKG maupun video yang dilihat, tidak ada pola pusaran angin yang terlihat.
Wilayah yang Terdampak
Berdasarkan catatan BMKG, dampak angin kencang paling besar terjadi di tiga wilayah, yaitu Long Bawan, Long Kiwan, dan Kampung Baru. Sementara wilayah lain di Kecamatan Krayan hanya mengalami hujan lebat tanpa disertai angin kencang.
Sebelum kejadian cuaca ekstrem, BMKG bersama Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan telah menerbitkan peringatan dini cuaca melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk grup WhatsApp di wilayah Kecamatan Krayan.
Kerusakan yang Terjadi
Cuaca ekstrem yang berlangsung kurang dari satu jam itu mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan. Data sementara dari Pos BPBD Krayan Induk mencatat dua rumah warga mengalami kerusakan berat. Selain itu, atap dua bangunan gereja terlepas, sebuah tower roboh hingga menimpa Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas) Long Bawan, serta sejumlah pohon tumbang yang sempat mengganggu akses masyarakat.
Dalam laporan hasil peninjauan lapangan, Kepala Subbidang Penyelamatan BPBD Nunukan Hasanuddin masih menyebut peristiwa tersebut sebagai hujan deras disertai angin puting beliung dan petir. Laporan ini juga merinci kerusakan yang terjadi di Kampung Baru, termasuk atap Gereja GKII, rumah dinas guru, Gedung SDN Kampung Baru, serta beberapa rumah milik warga.
Tidak Ada Korban Jiwa
BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Penanganan sementara dilakukan secara gotong royong oleh warga bersama jemaat dengan membongkar bagian bangunan yang membahayakan, mengamankan perlengkapan gereja yang terdampak hujan, serta membersihkan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.
Meskipun terdapat perbedaan penyebutan dalam laporan awal di lapangan, BMKG menegaskan bahwa secara meteorologis fenomena cuaca ekstrem di Krayan merupakan angin kencang akibat proses downdraft dari awan Cumulonimbus, bukan angin puting beliung.

Tinggalkan Balasan