Dampak Perubahan Iklim di Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, suhu udara belum mencapai angka yang tercatat di Spanyol atau Prancis, yang belakangan mengalami kenaikan hingga 40 derajat Celsius. Namun, tingkat kelembapan yang tinggi tetap meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas. Kondisi ini mencakup berbagai masalah mulai dari kelelahan akibat panas hingga serangan panas.
Laporan terbaru dari Climate Central menunjukkan bahwa wilayah Asia Tenggara bersama sebagian besar wilayah tropis Amerika Selatan dan pesisir Afrika Barat mengalami sedikitnya enam bulan hari panas-lembap berbahaya setiap tahun. Hari panas-lembap berbahaya didefinisikan sebagai hari ketika suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai minimal 25 derajat Celsius. Berbeda dengan suhu udara biasa, suhu bola basah memperhitungkan baik suhu maupun kelembapan udara, sehingga lebih mampu menggambarkan tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia.
“Seiring memanasnya planet kita, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil, kondisi panas-lembap menjadi semakin sering dan intens,” demikian disebut dalam laporan tersebut. Menurut peneliti, cuaca panas semakin berbahaya bukan hanya karena suhu udara, tetapi juga kelembapan. Ketika udara sangat lembap, suhu yang tampak biasa saja di termometer dapat terasa jauh lebih menyengat.
Dalam kondisi normal, tubuh melepaskan panas melalui penguapan keringat. Namun, ketika udara sudah dipenuhi uap air, keringat sulit menguap, sehingga panas tidak lagi dapat dilepaskan secara efektif. Akibatnya, panas menumpuk di dalam tubuh. “Ketika panas terus menumpuk, jantung harus bekerja lebih keras. Risiko dehidrasi dan penyakit akibat panas, termasuk kelelahan akibat panas maupun serangan panas, pun meningkat.”
Serangan panas merupakan kondisi darurat medis yang bisa menyebabkan kerusakan organ dan bahkan kematian jika tidak segera ditangani. Climate Central mencatat, panas ekstrem telah merenggut lebih dari seperempat juta nyawa di seluruh dunia sejak tahun 2000. Mereka yang paling rentan adalah lansia, anak-anak, ibu hamil, penderita penyakit penyerta, serta mereka yang tidak memiliki akses fasilitas pendingin.
Fenomena ini semakin sering terjadi seiring menghangatnya bumi. Secara global, jumlah hari panas-lembap berbahaya telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari rata-rata 10 hari per tahun pada era 1970-an menjadi 23 hari per tahun dalam satu dekade terakhir. Lembaga tersebut memperkirakan hampir 64 persen hari panas-lembap berbahaya yang terjadi sejak 1970 dipicu oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Temuan ini sejalan dengan analisis para ilmuwan dalam konsorsium World Weather Attribution (WWA). Mereka menilai gelombang panas ekstrem yang kini melanda Eropa menjadi lebih sering dan intens akibat penumpukan emisi gas rumah kaca di atmosfer. “Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim,” ujar peneliti WWA Theodore Keeping.
Para ilmuwan mengingatkan, tanpa upaya menekan emisi gas rumah kaca, gelombang panas di masa depan akan semakin ekstrem. Gelombang panas yang saat ini terasa luar biasa bahkan dapat dianggap lebih sejuk dibandingkan kondisi yang akan terjadi pada masa mendatang.
Pesisir Asia Tenggara Semakin Rentan
Ilmuwan iklim Climate Central Zack Labe menyatakan bahwa dampak panas-lembap akibat perubahan iklim paling nyata dirasakan di wilayah pesisir Asia Tenggara. “Jika kita melihat pekan ini, sebagian wilayah pesisir Asia Tenggara mengalami kondisi panas-lembap yang sangat berbahaya, yang kemungkinannya semakin besar karena perubahan iklim,” ujar Labe.
Menurut Climate Central, dampak perubahan iklim di Asia Tenggara tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga membebani sektor pertanian. Hasil panen dan produktivitas diperkirakan terus tertekan, padahal sektor ini menyumbang sekitar 8-15 persen perekonomian Indonesia, Thailand, dan Kamboja.
Laporan tersebut juga mencatat hampir separuh luas daratan dan populasi di Asia Tenggara kini terpapar sedikitnya satu jenis bahaya iklim. Sekitar 10 persen lahan berisiko terdampak banjir sungai, sementara sekitar 15 persen lainnya menghadapi risiko panas ekstrem. Tekanan akibat perubahan iklim itu pada akhirnya tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan pangan dan aktivitas ekonomi di kawasan.
Tinggalkan Balasan