Surat Gubernur: Peringatan Dini Bencana, Waspada Banjir dan Longsor di 19 Kabupaten/Kota, Penjelasan BMKG

Gubernur Sumut Keluarkan Surat Edaran Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi

Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Bobby Nasution, telah mengeluarkan Surat Edaran yang berisi instruksi peringatan dini kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Surat Edaran ini dikeluarkan untuk mempersiapkan wilayah Sumut menghadapi musim hujan dan potensi bencana yang dapat terjadi antara bulan Juni hingga Agustus 2026.

Surat Instruksi Nomor 188.54/6/INST/2026 menegaskan kepada seluruh kepala daerah kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi. Istilah “hidrometeorologi” merujuk pada bencana alam yang dipengaruhi oleh parameter cuaca dan iklim seperti curah hujan, kelembapan, angin, dan suhu udara. Di wilayah tropis seperti Indonesia, jenis bencana ini sering terjadi dan memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Contoh Bencana Hidrometeorologi

  • Banjir dan Banjir Bandang

    Terjadi akibat curah hujan ekstrem dalam waktu lama, yang diperparah oleh sistem drainase yang tidak memadai atau kerusakan daerah aliran sungai (DAS).

  • Tanah Longsor

    Dipicu oleh hujan lebat yang terus-menerus, sehingga tanah di daerah perbukitan atau lereng menjadi jenuh air dan tidak stabil.

  • Kekeringan

    Fenomena kekurangan air yang biasanya terjadi pada musim kemarau panjang, sering kali diperkuat oleh anomali iklim global seperti El Niño.

  • Angin Kencang (Puting Beliung/Badai)

    Angin dengan kecepatan tinggi yang umumnya terbentuk dari awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus.

Bencana hidrometeorologi ini mulai dari kondisi curah hujan yang cukup tinggi hingga musim panas pada bulan Agustus 2026 mendatang.

Peringatan Curah Hujan dan Daerah Rawan

Dalam Surat Edaran tersebut, disebutkan bahwa tingkat curah hujan pada bulan Juli 2026 diperkirakan berada dalam kategori rendah (51-100 mm) hingga menengah (101-200 mm). Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologis.

Beberapa daerah di Sumut dikategorikan sebagai daerah rawan bencana. Untuk kategori tinggi, sebagian Kabupaten Tapanuli Tengah termasuk dalam daftar. Sementara untuk kategori rendah, meliputi Kabupaten Batubara, Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba, dan Kota Padangsidempuan.

Pada bulan Agustus 2026, potensi hujan akan masuk dalam kategori rendah dan menengah. Namun, musim panas akan terjadi pada bulan tersebut. Daerah dengan kategori rendah meliputi Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu Selatan, Mandailing Natal, Nias, Nias Barat, Nias Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Pakpak Bharat, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba, dan Kota Padangsidimpuan.

Persiapan Menghadapi Bencana

Bobby Nasution juga meminta 19 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor pada tahun 2025 lalu untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Ia menekankan pentingnya persiapan lebih awal agar bisa mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi kembali.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, menyatakan bahwa saat ini Sumut sedang memasuki musim pancaroba. Musim ini merupakan transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026. Namun, hujan masih terus melanda wilayah Sumut.

Tuahta meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah di hutan atau di siang hari, karena dapat memicu kebakaran. Selain itu, ia mengimbau seluruh BPBD kabupaten/kota untuk siap siaga dan menyiapkan alat-alat mitigasi bencana.

Fenomena Antisiklon dan Gelombang Kelvin

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan menjelaskan bahwa fenomena hujan yang terjadi di Sumut disebabkan oleh antisiklon atau pusat tekanan udara tinggi yang aktif di Samudera Hindia Barat Sumut. Fenomena ini menyebabkan massa udara mengalir keluar dari pusatnya dan terjadi perlambatan kecepatan angin, sehingga memicu penumpukan uap air dan pertumbuhan awan konvektif.

Selain antisiklon, gelombang Kelvin yang aktif di wilayah Sumut turut mendukung terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Suhu permukaan laut yang hangat juga meningkatkan suplai uap air dan potensi pembentukan awan konvektif serta curah hujan.

BMKG memperkirakan kondisi cuaca hujan hampir seharian masih akan terjadi hingga beberapa hari ke depan di sebagian besar wilayah Sumut, termasuk Kota Medan dan sekitarnya. Curah hujan tertinggi tercatat di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Pakpak Bharat.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir atau longsor. Pemangku kepentingan juga diharapkan memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi bencana alam yang terjadi akibat cuaca ekstrem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *