Prestasi yang diraih oleh Veda Ega Pratama sejak debutnya di kelas Moto3 telah menjadi angin segar bagi dunia balap motor Indonesia. Tidak hanya mengejutkan publik, namun juga membuat para pengamat dan keluarga sendiri terkejut dengan keberhasilannya.

Kinerja Veda Ega Pratama hingga paruh musim Moto3 telah melebihi pencapaian-pencapaian pembalap Indonesia sebelumnya di kelas-kelas balap motor grand prix. Dengan total 90 poin yang dikumpulkan dalam setengah kompetisi, prestasi ini jauh lebih baik dibandingkan rekor terbaik rider Indonesia sebelumnya yang belum pernah mencapai angka dua digit dalam satu musim.

Debut Veda Ega Pratama tidak bisa dibilang biasa. Pada balapan pertamanya di Buriram, Thailand, ia langsung finis lima besar. Sebagai rookie berusia 17 tahun dari Gunung Kidul, penampilan ini menunjukkan bahwa ia memiliki potensi besar.
Pada balapan berikutnya di Goiania, Brasil, Veda berhasil meraih posisi tiga besar, menjadikannya sebagai pembalap pertama dari Indonesia yang mengibarkan bendera negara di podium.
Ledakan prestasi Veda tidak berlangsung sebentar. Meski persaingan semakin ketat, ia tetap mampu bertahan di posisi 10 besar, sesuatu yang baru bagi Indonesia di ajang MotoGP.
Ayah Veda, Sudarmono, yang merupakan salah satu orang terdekat, mengakui bahwa ia tidak menyangka dengan debut yang luar biasa dari putranya. Ia mengatakan bahwa target awal Veda hanyalah belajar dan memperoleh pengalaman.
“Alhamdulillah, Veda bisa bertarung karena targetnya tadinya memang cuma belajar,” ujar Sudarmono.
Sudarmono, atau yang akrab disapa Mono, menyebut bahwa Veda sempat kurang percaya diri dengan potensinya sebelum debut di Moto3. Dua kali tes pramusim di Jerez, Spanyol, pada November dan Februari lalu belum cukup untuk membuat Veda merasa mantap.
“Setelah tes pramusim Moto3, Veda merasakan ini balapan terkeras, tapi setelah mencoba di Thailand dan bisa ke 10 besar, dia tambah semangat,” tutur Sudarmono.
Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh perbedaan motor dan saingan yang sudah berpengalaman. “Mereka memang kencang-kencang gitu, dari cara mengendalikan motornya, adaptasi ke sirkuitnya, problem-problem di motor itu mereka sudah paham nih harus ngapain. Sementara Veda kan masih nol gitu ya.”
Veda kalah start dari mayoritas pembalap debutan lainnya yang tampil duluan di Moto3 sebagai pembalap pengganti atau wild card. Aturan batas usia pembalap menjadi penghalang. Ulang tahun Veda yang ke-17 tiba pada 23 November silam, alias ketika kalender MotoGP 2026 sudah berakhir.
Namun, Veda sebenarnya sudah istimewa karena berhak tampil setahun sebelum batas minimal 18 tahun berkat prestasi sebagai pembalap tiga besar klasemen akhir Red Bull Rookies Cup.
Sudarmono tampaknya berusaha untuk tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi terhadap putranya. Namun, Veda terus memberi kejutan.
“Waktu dia bisa terus maju posisinya itu (di GP Thailand) saya pikir paling cuma di lap-lap awal, nanti tersalip, tapi ternyata tidak, jadi enggak menyangka.”
“Sama waktu podium di Brasil itu enggak menyangka juga.”
“Waktu telpon dia bilang, ‘Kok bisa ya’, seperti itu. Terus saya juga tanya, ‘Kok bisa ya.’ Habis itu saya beri motivasi lebih,” tambahnya.
Prestasi di atas rata-rata yang dicatatkan Veda pada musim debutnya tidak mengubah harapan Sudarmono terhadap putranya. Tujuan Veda untuk musim ini tetap sama seperti sebelumnya, yaitu berkembang dalam balapan dan mengumpulkan kilometer sebanyak mungkin demi bekal ke depannya.
“Harapan ke depannya kalau saya tetap dia mau belajar terus jangan merasa puas. Terus semakin cepat adaptasi. Ya, intinya lebih baik dan lebih baik lagi,” pungkas Sudarmono.
Tinggalkan Balasan