Ringkasan Berita:
- Bio, Ramblan atau Busu, serta Perie yang disebut sebagai pelaku utama penganiayaan terhadap tiga personel polisi di Katingan, tiba di Palangka Raya sekira pukul 13.50 WIB.
- Mereka bertiga tampak mengenakan baju tahanan berwarna oranye sambil didorong pakai kursi roda. Sementara tangan ketiganya terborgol.
- Bio diteriaki oleh seorang perempuan diketahui bernama Intan (30), mantan istri Bio. Intan tampak menangis dan kesal terhadap Bio yang pernah menganiaya dirinya.
, PALANGKA RAYA – Tiga tersangka kasus penggerebekan bandar narkoba berujung tewasnya anggota Satresnarkoba Polres Katingan, tiba di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kamis (16/7/2026).
Bio, Ramblan atau Busu, serta Perie yang disebut sebagai pelaku utama penganiayaan terhadap tiga personel polisi di Katingan, tiba di Palangka Raya sekira pukul 13.50 WIB.
Mereka bertiga tampak mengenakan baju tahanan berwarna oranye sambil didorong menggunakan kursi roda, serta dikeliling oleh personel kepolisian. Sementara tangan ketiganya terborgol.
Saat keluar dari pintu kedatangan, Bio diteriaki oleh seorang perempuan yang diketahui bernama Intan (30), mantan istri Bio.
Intan tampak menangis dan kesal terhadap Bio yang pernah menganiaya dirinya.
“Gara-gara kamu hidungku patah,” ucapnya.
Mendengar itu, Bio hanya menoleh dan tak berkata apa-apa. Saat ditanyai awak media mengenai motif penyerangan terhadap polisi, baik Bio, Ramblan, maupun Perie memilih bungkam.
Ketiganya langsung dimasukkan ke dalan ambulans Sidokkes Polda Kalteng dan segera meninggalkan area bandara.
Informasi terhimpun, Bio, Ramblan, dan Perie langsung dibawa ke Mapolda Kalteng untuk menjalani proses hukum.
Sebagai informasi, Bio, Ramblan, dan Perie ditangkap Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri melalui gabungan Subdirektorat IV dan Satgas NIC di Kalimantan Timur pada Kamis (9/7/2026).
Para pelaku langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk menjalani perawatan panas usai dihadiahi timah panas oleh petugas karena melawan saat ditangkap.
Bio dan dua pelaku lainnya disebut melawan menggunakan senjata tajam. Berdasarkan foto yang beredar, tampak ketiga pelaku menggunakan kursi roda saat tiba di RS Polri Kramat Jati.
Untuk diketahui, kasus yang menjadi sorotan publik ini berawal dari operasi penggerebekan terhadap terduga bandar sabu, Bio di Desa Tumbang Kalemei, Kamis (2/7/2026) dini hari.
Operasi itu melibatkan 12 personel Satresnarkioba Polres Katingan yang dibagi menjadi 2 tim. Tim 1 bergerak ke rumah target operasi berjumlah sembilan orang, dan tim 2 berisi tiga orang berjaga tak jauh dari situ.
Akan tetapi, operasi tersebut berujung bentrok antara aparat karena keluarga target operasi memberi perlawanan. Akibatnya, dua orang meninggal dunia dan personel Satresnarkoba Polres Katingan lainnya mengamankan diri dengan menyeberangi sungai.
Adapun korban meninggal dunia dalam bentrok itu yakni Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra dan keluarga target operasi Teriyo (40).
Sedangkan dua personel Satrenarkoba Polres Katingan sempat hilang yaitu Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumariyanto.
Kedua personel Polri itu telah ditemukan meninggal dunia di sungai. Bripda Nopandri ditemukan lebih dulu pada Sabtu (4/7/2026).
Jenazahnya telah dimakamkan di Katingan setelah sempat dibawa ke RS Bhayangkara dan ditangani tim forensik.
Sementara itu, jenazah Aiptu Sumariyanto ditemukan di DAS Rantau Asem, Kecamatan Katingan Tengah, Katingan, Minggu (5/7/2026).
Sejauh ini, setidaknya 9 orang yang diduga terlibat penyerangan terhadap personel polisi dan peredaran narkoba itu sudah ditangkap. Selain tiga pelaku utama, kepolisian juga menangkap Saldy alias Ateng, Isnan Melai Pebriansyah alias Roby, Nimu, Ahmad Riyadi Saputra alias Yadi, dan M Lupie.
Polisi juga masih mendalami peran seorang perempuan yang diketahui bernama Dea atau Nabil yang disebut anak anggota DPRD Katingan dan Kades Tumbang Marak.






















