Inovasi Pengeringan Produk Laut dari ITB
Sebuah inovasi baru yang dilakukan oleh Susanna Nurdjaman dan timnya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menciptakan bangunan seperti oven besar yang mampu mempercepat proses pengeringan produk laut. Model bangunan tersebut dilengkapi dengan pemanas ruangan yang menggunakan tenaga surya serta memanfaatkan limbah botol plastik sebagai dinding.
Bangunan ini dirancang untuk berbagai kebutuhan, seperti pengeringan rumput laut, pengolahan ikan asin, kerupuk, dan garam. Dosen di kelompok keahlian oseanografi lingkungan dan terapan ITB itu menjelaskan bahwa bangunan terbaru yang berkonsep dry oven ini berdiri di Desa Muara, Kabupaten Cirebon, pada 4 April lalu. Ukurannya 5 x 2 meter dengan ketinggian 3 meter. Ruangannya dilengkapi pemanas bertenaga surya yang berasal dari panel yang disimpan dalam aki.
Dinding bangunan dibuat dari seng dengan tiang baja ringan dan atap yang transparan seperti rumah kaca. Hal ini memungkinkan sinar matahari masuk dan panasnya terkumpul. Susanna menjelaskan bahwa panas utamanya berasal langsung dari matahari, sedangkan tambahannya berasal dari pemanas tenaga panel surya. Selain itu, bangunan ini bisa digunakan bahkan ketika hari mendung atau hujan. Proses pengeringan dinilai lebih higienis karena dilakukan di dalam ruangan. Namun, sebagai bangunan contoh, kapasitas untuk produk laut yang akan dikeringkan masih terbatas.
Model bangunan ini dapat dikembangkan ke ukuran yang lebih besar sesuai kebutuhan dan dipakai secara komunal. Susanna menjelaskan bahwa jika panen rumput laut tidak setiap hari, maka hari-hari lain bisa digunakan untuk proses pengeringan produk lain. Seorang petambak udang dan ikan di Desa Muara, Wahyudi, mengakui bahwa rumah oven ini bisa membantu proses pengeringan meskipun jumlahnya masih terbatas. Dari sekitar 1-2 ton hasil panen rumput laut, hanya 2-3 kuintal yang bisa masuk ke ruang pengeringan.
Budi daya rumput laut umumnya dilakukan oleh para petani tambak. Kolam mereka bercampur dengan udang atau ikan bandeng. Menurut Wahyudi, pada hari panas, waktu pengeringan rumput laut di luar dan di dalam ruangan oven hampir sama, yaitu sekitar 2-3 hari. Bangunan ini mengatasi masalah pengeringan saat cuaca hujan.
Dalam dua tahun terakhir, Susanna menerapkan metode pengeringan sederhana ini di beberapa wilayah pesisir dengan beragam model dan ukuran, seperti 3 x 4 meter. Rumah garam berskala rumahan digunakan untuk mengeringkan air laut bagi petambak garam di Cirebon, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Di dalamnya dipasang rak bertingkat sehingga hemat tempat dan lebih cepat untuk pengeringan. Kualitas (grade) garamnya lebih bagus dan lebih bersih, menurut Susanna.
Dari hasil uji coba yang dilakukan, pengeringan di dalam ruangan seperti green house menghasilkan 300-500 kilogram. Dengan cara biasa, yaitu penjemuran di luar ruangan, diperlukan waktu sekitar 2-4 minggu. Jika hujan, penjemurannya harus diulang. Sedangkan penjemuran rumah garam sudah bisa menghasilkan dalam waktu sepekan.
Selain bahan logam sebagai penutup dinding, Susanna juga memakai botol plastik bekas yang disusun rapat. Hal ini tidak hanya membantu mengatasi limbah plastik tetapi juga membuat biaya pembuatan rumah oven menjadi lebih murah. Menurutnya, bahan lain bisa dikembangkan untuk dipakai. Dari beberapa rumah oven yang dibuatnya, kisaran biayanya sekitar Rp 5-50 juta.
Tinggalkan Balasan