Penyesalan Kane atas Peluang yang Terlewat
Kekalahan yang dialami oleh tim raksasa Bavaria dalam kompetisi Eropa menimbulkan kekecewaan besar. Pada pertandingan yang berlangsung di Allianz Arena, tim tersebut harus puas dengan hasil imbang 1-1. Setelah pertandingan selesai, striker berusia 32 tahun ini menyatakan bahwa hasil tersebut “sulit diterima”. Gol awal yang dicetak oleh Ousmane Dembele dari tim tamu memaksa Bayern berjuang keras untuk mencari kemenangan. Meskipun Kane berhasil menyamakan skor di waktu tambahan, situasi sudah terlalu terlambat.
“Dalam dua pertandingan ini, kami memiliki banyak peluang untuk meraih hasil yang berbeda, tetapi itu tidak berhasil,” ujar Kane, mengingatkan pada kegagalan timnya dalam mengubah dominasi menjadi gol. Ia juga menyebut bahwa di sepertiga akhir lapangan, timnya sedikit boros dalam hal umpan silang, umpan terakhir, dan tendangan terakhir. Meski demikian, permainan di lini tengah menunjukkan performa yang baik.
Rekor Baru yang Tidak Menyembuhkan Rasa Kecewa
Dalam pencapaian pribadi yang memadukan antara rasa bangga dan kekecewaan, gol penyama kedudukan Kane di menit-menit akhir membawanya masuk ke dalam buku sejarah bersama salah satu pemain terhebat sepanjang masa. Dengan mencetak gol di menit keempat waktu tambahan, ia menjadi pemain pertama sejak Cristiano Ronaldo yang mampu mencetak gol dalam enam pertandingan sistem gugur berturut-turut di Liga Champions. Rekor ini membuatnya mencetak gol di kedua leg melawan Atalanta, Real Madrid, dan PSG.
Namun, pencapaian pribadi ini tidak memberikan banyak penghiburan bagi Kane. Ia masih mencari trofi Eropa pertamanya. Meskipun musim ini produktif di Munich dengan total 55 gol dan tujuh assist di semua kompetisi, trofi tertinggi dalam sepak bola klub sekali lagi luput darinya. Ia cepat-cepat memberi pujian kepada lawan sambil menambahkan: “Selamat kepada PSG. Mereka memanfaatkan peluang mereka di kedua pertandingan. Dan itulah alasan mengapa kami tidak lagi berada di kompetisi ini.”
Kontroversi Wasit yang Memicu Kemarahan
Meskipun Kane mengkritik ketajaman timnya dalam mencetak gol, ia juga merasa frustrasi dengan keputusan wasit. Seperti banyak rekan setimnya, striker tersebut merasa bahwa bek PSG, Nuno Mendes, seharusnya diusir pada babak pertama karena melakukan pelanggaran yang layak mendapat kartu kuning kedua. “Mereka jelas seharusnya mendapat kartu kuning kedua,” ujarnya, menyoroti momen kunci yang mungkin mengubah jalannya pertandingan jika juara Ligue 1 itu bermain dengan 10 orang.
Perasaan ketidakadilan ini juga dirasakan oleh manajer Vincent Kompany. Ia menyarankan bahwa wasit kurang memiliki akal sehat setelah insiden handball kontroversial lainnya yang melibatkan Joao Neves juga diabaikan. “Kita harus melihat beberapa fase yang diputuskan oleh wasit di kedua pertandingan ini. Ini bukan alasan untuk segalanya, tapi hal ini penting,” tambah Kompany dalam penilaian pasca-pertandingannya.
Fokus Kini Beralih ke Gelar Ganda Domestik
Kekalahan ini menandai akhir yang menyakitkan bagi ambisi treble Bayern. Namun, Kane menegaskan bahwa musim ini tidak boleh dinilai hanya berdasarkan satu hasil pertandingan. “Kami bermimpi memenangkan semua gelar, dan kami cukup kuat untuk mencapainya. Itulah mengapa saat ini rasanya sangat menyakitkan. Kami tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu pertandingan. Sejauh ini, kami telah menjalani musim yang fantastis. Kami masih memiliki peluang untuk meraih gelar ganda.”
Dengan gelar Bundesliga yang tampaknya sudah aman, fokus kini sepenuhnya beralih ke final DFB-Pokal melawan Stuttgart, di mana Bayern masih bisa menyelamatkan musim yang sukses.
Tinggalkan Balasan