Banjir di Kabupaten Lamandau Menggenangi Ratusan Rumah
Curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus sejak Jumat (8/5/2020) lalu telah mengakibatkan banjir di beberapa wilayah Kabupaten Lamandau. Salah satu daerah yang terdampak adalah Desa Nuangan, Kecamatan Bulik Timur. Luapan air dari Sungai Palikodan menyebabkan permukiman warga yang berada di bantaran sungai terendam air.
Banjir mulai terjadi setelah debit air meningkat secara signifikan akibat kiriman air dari hulu Sungai Palikodan. Puncak banjir terjadi pada Minggu (10/5/2026), ketika air langsung menggenangi area pemukiman dan fasilitas umum di Desa Nuangan. Sebanyak 17 kepala keluarga (KK) dengan total 53 jiwa terdampak banjir ini. Selain itu, 17 unit rumah warga terendam air.
Selain rumah warga, beberapa fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Di antaranya adalah Kantor Desa, Polindes, Posyandu, Balai Desa, Pustu, dan Dermaga. Tiga titik akses jalan di wilayah tersebut juga tergenang dengan kedalaman mencapai 50 cm di titik terendah.
Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Lamandau telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah desa untuk melaksanakan kaji cepat di lapangan. Dari hasil peninjauan, diperoleh data bahwa dampak banjir cukup parah dan memerlukan perhatian serius.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lamandau, Hendikel, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau situasi di lokasi kejadian. Ia juga menjelaskan bahwa selain di Desa Nuangan, ada beberapa wilayah lain yang sempat terkena genangan air. Namun, saat ini kondisi di wilayah tersebut sudah mulai membaik.
“Ada di Desa Pedongatan tapi sudah surut. Itu akibat hujan tanggal 8 Mei malam sampai subuh kemarin,” ujar Hendikel saat dikonfirmasi oleh wartawan pada Senin (11/5).
Hingga berita ini diturunkan, petugas BPBD bersama pihak desa masih tetap berjaga untuk mengantisipasi kemungkinan adanya banjir susulan jika intensitas hujan kembali meningkat di wilayah hulu. Mereka juga terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
Beberapa langkah pencegahan dan mitigasi telah dilakukan oleh pihak terkait. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kejadian banjir yang bisa terulang kembali. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga lingkungan sekitar dan tidak membuang sampah sembarangan agar aliran air tidak tersumbat.
Dengan situasi yang terus dipantau dan tindakan preventif yang dilakukan, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga penanggulangan bencana sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan warga di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Tinggalkan Balasan