Taruna Akmil Latih Siswa Sekolah Rakyat, DPR: Jangan Militerisasi Pendidikan

Peran Taruna Akmil dalam Pembinaan Siswa Sekolah Rakyat

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Sandi Fitrian Noor, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pendidikan karakter dan nilai-nilai militer saat melibatkan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam pembinaan siswa Sekolah Rakyat. Ia menekankan bahwa meskipun nilai-nilai positif dari pendidikan militer dapat diadopsi, tidak boleh terjadi kesan militerisasi di lingkungan sekolah.

Sandi mengatakan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) untuk melibatkan sekitar 1.000 taruna Akmil adalah upaya membangun generasi muda yang disiplin, berintegritas, serta memiliki semangat kebangsaan. Namun, ia menilai implementasi kebijakan ini perlu dirancang secara tepat agar tujuan tersebut benar-benar tercapai tanpa menyebabkan kesan negatif di kalangan masyarakat.

“Jangan sampai publik merasa bahwa sekolah menjadi ruang militerisasi. Yang harus ditransformasikan adalah nilai-nilai positifnya, bukan kultur militernya,” ujarnya dalam pernyataannya.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti kedisiplinan, kepemimpinan, nasionalisme, dan cinta tanah air sangat penting ditanamkan kepada peserta didik, terutama di Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Sandi melihat niat pemerintah sangat baik dalam menciptakan generasi muda yang memiliki sikap disiplin, integritas, semangat kebangsaan, serta tanggung jawab.

Namun, ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus tetap berada dalam koridor pedagogi yang humanis. Sebagai mitra kerja Kemensos, Komisi VIII DPR RI berkepentingan memastikan setiap kebijakan di Sekolah Rakyat berpijak pada kepentingan terbaik bagi anak. Menurut dia, para peserta didik membutuhkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, suportif, sekaligus mampu menumbuhkan kembali rasa percaya diri mereka.

Sandi juga mengingatkan bahwa berbagai penelitian, termasuk hasil Program for International Student Assessment (PISA) dan kajian Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan bahwa pembentukan karakter lebih efektif dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, penguatan budaya sekolah, serta hubungan positif antara pendidik dan peserta didik.

“Disiplin memang penting, tetapi disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Disiplin harus lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi roh pembinaan di Sekolah Rakyat,” katanya.

Menurut Sandi, taruna Akmil memiliki banyak nilai yang layak menjadi teladan, seperti integritas, kepemimpinan, kerja sama tim, semangat pengabdian kepada bangsa, ketangguhan mental, dan kedisiplinan. Karena itu, ia berharap kehadiran para taruna difokuskan sebagai pendamping karakter dan teladan kepemimpinan bagi para siswa.

“Peran mereka harus ditempatkan sebagai mentor karakter dan teladan kepemimpinan, bukan sebagai instruktur yang menggunakan pola pembinaan khas pendidikan militer,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Sosial bekerja sama dengan TNI akan menerjunkan sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II untuk mendampingi siswa di 178 titik Sekolah Rakyat. Program pendampingan kehidupan berasrama itu dijadwalkan berlangsung selama lima hari di setiap lokasi, mulai 3 hingga 8 Agustus 2026.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa pelibatan taruna Akmil tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru di ruang kelas, melainkan mendampingi siswa dalam membangun kemandirian selama tinggal di asrama.

“Tujuannya membantu anak-anak yang tinggal di asrama agar lebih mandiri. Mereka akan dibimbing melakukan hal-hal sederhana, seperti merapikan lemari, merapikan tempat tidur, hingga membiasakan kerapian dalam berseragam,” kata Agus Jabo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *