Tawa Ceria Evaluator UNESCO di Batik Srikandi Markeh, Nicolas Usulkan Pertukaran Budaya ke Thailand

Bangko, Forumnusantaranews.com,
Suasana hangat dan penuh gelak tawa mewarnai kunjungan dua evaluator UNESCO Global Geopark di Rumah Batik dan Eco Print Kelompok Srikandi, Desa Markeh, Kecamatan Renah Pembarap, Selasa (11/8/2026).
Prof. Dr. Yongmun Jeon dari (Jeju Island UNESCO Global Geopark, Korea Selatan) dan Mr. Nicolas Klee dari (Monts D’Ardèche UNESCO Global Geopark, Prancis) tampak antusias menjajal langsung proses pembuatan batik lokal khas Merangin.
Dalam agenda peninjauan lapangan tersebut, kedua evaluator dunia itu tidak hanya melihat koleksi batik cap dan batik tulis, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung pembuatannya.
Momen paling meriah pecah saat proses penempelan motif daun pada kain batik ecoprint. Ketika diminta menginjak kain agar pigmen daun menempel sempurna, Jeon dan Nicolas justru menginjak-injak kain sambil menari. Aksi spontan itu memicu tawa para pengrajin dan seluruh warga yang hadir.
Usai proses penempelan pigmen, kain batik ecoprint kemudian dikukus atau direbus. Di tahap inilah kedua evaluator kembali terkesima.
“Baru di sini saya melihat ada batik yang dibuat dengan cara dikukus,” ujar Prof. Yongmun Jeon kagum.
Di sela kegiatan membatik, Prof. Yongmun Jeon mempertanyakan sejauh mana keberadaan geopark memberikan dampak konkret terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
Pengelola Batik Srikandi, Meri Diastuti, menegaskan dampaknya sangat signifikan.
“Sangat berdampak. Masyarakat yang terlibat mendapatkan tambahan pemasukan dari hasil penjualan batik ini. Pihak Geopark Merangin dan Universitas Jambi juga banyak memberikan bantuan berupa pelatihan ecoprint hingga pendampingan pemasaran,” ujar Meri.
Meri menambahkan, rumah batiknya kini menjadi pusat edukasi bagi PKK, Dekranasda, hingga instansi sekolah. Daya tarik kerajinan ini juga telah mendatangkan wisatawan mancanegara dari Thailand, Maroko, dan Jepang.
Melihat potensi tersebut, Mr. Nicolas Klee melemparkan gagasan untuk memperluas jangkauan promosi ke tingkat internasional melalui program pertukaran budaya.
“Setahu saya, geopark di Thailand juga memiliki kegiatan serupa dan berhasil menarik banyak minat wisatawan. Bagaimana jika kelompok di sini melakukan pertukaran budaya atau studi banding ke geopark di Thailand?”, usul Nicolas melalui penterjemah Lukman dari Balai Bahasa Jambi.
Pihak pengelola menyambut positif masukan dari evaluator asal Prancis tersebut.
“Saran itu akan menjadi catatan kami dan mudah-mudahan bisa difasilitasi oleh Badan Pengelola Geopark Merangin,” pungkas Meri.
Kunjungan ke Rumah Batik Srikandi menjadi salah satu rangkaian revalidasi Geopark Merangin Jambi oleh tim UNESCO untuk menilai peran ekonomi kreatif masyarakat dalam mendukung status Taman Bumi dunia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *