Tanjabtim, Forumnusantaranews.com-
Dulu, setiap hujan turun warga Kelurahan Pandan Jaya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, hanya bisa pasrah. Jalan utama penghubung Blok D–Mendahara berubah jadi kubangan lumpur sepanjang mata memandang.
Kini pemandangan itu tinggal kenangan. Senyum bahagia kembali merekah di wajah warga setelah jalan rigid beton sepanjang 3 kilometer rampung dibangun.
Jalan kokoh ini adalah wujud kontribusi nyata SKK Migas–PetroChina International Jabung Ltd melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat PPM atau CSR.
Sebelum 2024, ruas jalan itu dikenal sebagai “jalan neraka” bagi petani. Lubang menganga, badan jalan amblas, dan saat musim hujan kendaraan sering mogok.
Padahal jalur tersebut adalah urat nadi ekonomi warga. Setiap hari jadi akses utama petani sawit mengangkut hasil panen ke pabrik dan pasar.
Kondisi diperparah karakteristik tanah gambut yang labil dan lalu lintas kendaraan bertonase besar. Akibatnya biaya logistik membengkak, waktu tempuh berlipat, dan hasil panen sering terlambat sampai.
“Jalan yang dulu bikin rugi, sekarang justru bikin untung,” begitu kata warga menggambarkan perubahan.
Manfaat jalan baru langsung terasa. Distribusi hasil sawit kini jauh lebih cepat dan efisien.
Pakde Pon, petani sawit Pandan Jaya, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, semenjak jalan dibangun oleh SKK Migas–PetroChina International Jabung, angkutan hasil panen kami jadi lebih lancar karena jalannya sudah bagus dan mulus. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan komitmen yang diberikan PetroChina kepada masyarakat,” ujarnya.
Oni, warga lainnya, menambahkan jalan mulus ini bukan hanya untuk petani. “Hadirnya akses jalan yang prima ini menyudahi masa-masa sulit kami saat hujan. Ibu-ibu ke pasar, pekerja berangkat cari nafkah, anak sekolah berangkat dengan baju tetap bersih dan rapi. Semua jadi lebih mudah,” katanya.
Lurah Pandan Jaya Firdaus alias Pinggo menyebut jalan ini sebagai infrastruktur vital yang sudah lama dinanti.
“Transformasi akses transportasi ini membuka peluang besar bagi petani mendistribusikan hasil panen lebih cepat dan efisien. Biaya operasional pascapanen turun, pendapatan bersih petani naik. Ini jadi motor penggerak ekonomi masyarakat Tanjung Jabung Timur,” jelasnya.
Dengan konstruksi rigid beton yang adaptif di lahan gambut, jalan ini diharapkan tahan lama dan terus menjadi penghubung harapan baru bagi ribuan warga di Geragai–Mendahara.(Tat/Nic)
Dulu, setiap hujan turun warga Kelurahan Pandan Jaya, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, hanya bisa pasrah. Jalan utama penghubung Blok D–Mendahara berubah jadi kubangan lumpur sepanjang mata memandang.
Kini pemandangan itu tinggal kenangan. Senyum bahagia kembali merekah di wajah warga setelah jalan rigid beton sepanjang 3 kilometer rampung dibangun.
Jalan kokoh ini adalah wujud kontribusi nyata SKK Migas–PetroChina International Jabung Ltd melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat PPM atau CSR.
Sebelum 2024, ruas jalan itu dikenal sebagai “jalan neraka” bagi petani. Lubang menganga, badan jalan amblas, dan saat musim hujan kendaraan sering mogok.
Padahal jalur tersebut adalah urat nadi ekonomi warga. Setiap hari jadi akses utama petani sawit mengangkut hasil panen ke pabrik dan pasar.
Kondisi diperparah karakteristik tanah gambut yang labil dan lalu lintas kendaraan bertonase besar. Akibatnya biaya logistik membengkak, waktu tempuh berlipat, dan hasil panen sering terlambat sampai.
“Jalan yang dulu bikin rugi, sekarang justru bikin untung,” begitu kata warga menggambarkan perubahan.
Manfaat jalan baru langsung terasa. Distribusi hasil sawit kini jauh lebih cepat dan efisien.
Pakde Pon, petani sawit Pandan Jaya, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, semenjak jalan dibangun oleh SKK Migas–PetroChina International Jabung, angkutan hasil panen kami jadi lebih lancar karena jalannya sudah bagus dan mulus. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan komitmen yang diberikan PetroChina kepada masyarakat,” ujarnya.
Oni, warga lainnya, menambahkan jalan mulus ini bukan hanya untuk petani. “Hadirnya akses jalan yang prima ini menyudahi masa-masa sulit kami saat hujan. Ibu-ibu ke pasar, pekerja berangkat cari nafkah, anak sekolah berangkat dengan baju tetap bersih dan rapi. Semua jadi lebih mudah,” katanya.
Lurah Pandan Jaya Firdaus alias Pinggo menyebut jalan ini sebagai infrastruktur vital yang sudah lama dinanti.
“Transformasi akses transportasi ini membuka peluang besar bagi petani mendistribusikan hasil panen lebih cepat dan efisien. Biaya operasional pascapanen turun, pendapatan bersih petani naik. Ini jadi motor penggerak ekonomi masyarakat Tanjung Jabung Timur,” jelasnya.
Dengan konstruksi rigid beton yang adaptif di lahan gambut, jalan ini diharapkan tahan lama dan terus menjadi penghubung harapan baru bagi ribuan warga di Geragai–Mendahara.(Tat/Nic)
Tinggalkan Balasan