Kebakaran mobil listrik jauh lebih sedikit daripada mobil konvensional

Kebakaran pada Kendaraan Listrik: Fakta yang Perlu Diketahui

Kendaraan listrik semakin banyak ditemukan di jalan raya, dan dengan peningkatan populasi tersebut muncul berbagai kekhawatiran mengenai risiko keamanannya. Banyak orang percaya bahwa teknologi baterai modern membuat kendaraan listrik lebih rentan meledak atau terbakar dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Statistik yang Menjelaskan Tingkat Risiko

Data dari lembaga riset keselamatan dan asuransi internasional menunjukkan bahwa angka insiden kebakaran pada mobil listrik jauh lebih rendah dibandingkan mobil bermesin bensin. Studi yang dirilis oleh AutoinsuranceEZ di Amerika Serikat menggunakan data dari National Transportation Safety Board (NTSB) menemukan bahwa mobil listrik hanya mencatat sekitar 25 insiden kebakaran per 100.000 unit kendaraan yang terjual. Angka ini sangat jauh lebih rendah dibandingkan mobil bensin yang mencatatkan sekitar 1.530 kasus per 100.000 penjualan.

Secara global, porsi kejadian kebakaran pada kendaraan listrik hanya berkisar di angka 2% dari total kasus kebakaran transportasi darat. Hal serupa juga dikonfirmasi oleh otoritas keselamatan Swedia, Myndigheten för samhällsskydd och beredskap (MSB), yang menyatakan bahwa kendaraan berbasis baterai memiliki risiko terbakar yang lebih rendah dalam operasional harian.

Ancaman Thermal Runaway yang Meningkatkan Intensitas Api

Meskipun frekuensi kejadiannya rendah, karakteristik kobaran api dari sel baterai litium-ion memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi. Isu utama terletak pada fenomena yang disebut thermal runaway. Kondisi ini terjadi saat satu sel mengalami korsleting atau kerusakan mekanis, yang kemudian memicu panas ekstrem yang merambat cepat ke ratusan sel lainnya dalam hitungan detik.

Laporan teknis dari Dansk Brand- og sikringsteknisk Institut (DBI) menjelaskan bahwa reaksi berantai ini menciptakan pasokan oksigen internal di dalam struktur baterai. Akibatnya, api berkobar dengan suhu yang jauh lebih tinggi dan melepaskan gas kimia yang berbahaya. Karakteristik ini membuat metode pemadaman konvensional seperti menutup aliran udara luar tidak efektif karena reaksi kimia di dalam ruang kompartemen tetap aktif.

Kebutuhan Air Melimpah dan Risiko Penyalaan Ulang

Prosedur penjinakan titik api pada kendaraan listrik memerlukan metode yang berbeda dari penanganan kendaraan bahan bakar fosil. Berdasarkan panduan keselamatan dari National Fire Protection Association (NFPA), sebuah mobil konvensional biasanya membutuhkan sekitar 1.000 hingga 3.000 liter air untuk dipadamkan sepenuhnya. Sementara itu, kendaraan listrik yang baterainya telah mengalami thermal runaway bisa membutuhkan hingga 11.000 sampai 30.000 liter air untuk mendinginkan suhu inti sel secara total.

Tantangan terbesar yang dihadapi regu pemadam kebakaran adalah risiko penyalaan ulang spontan (re-ignition). Sel baterai yang tampak sudah padam di permukaan luar sering kali masih menyimpan panas tinggi di bagian dalam. Tanpa pendinginan yang merata dan konstan selama berjam-jam, sel tersebut dapat kembali memicu percikan api baru, bahkan setelah mobil berhasil dievakuasi ke area penyimpanan.

Kesimpulan

Meskipun jumlah kejadian kebakaran pada kendaraan listrik relatif rendah, karakteristik api yang dihasilkan serta proses pemadamannya memerlukan pendekatan yang berbeda dan lebih hati-hati. Teknologi baterai modern tidak membuat kendaraan listrik lebih rentan terbakar, namun memperkenalkan tantangan baru dalam hal keselamatan dan pemadaman. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko dan cara menghadapinya, masyarakat dapat lebih percaya pada keamanan kendaraan listrik sebagai solusi transportasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *