forumnusantaranews.com, JAKARTA — Pelaku industri otomotif nasional mulai dilanda kekhawatiran atas pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat serta memperberat biaya produksi kendaraan.
Mengacu pada kurs Jisdor Bank Indonesia per Selasa (5/5/2026), rupiah tercatat sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.425 per dolar Amerika Serikat (AS), yang disebut menjadi posisi terendah sepanjang sejarah.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, depresiasi rupiah berisiko memperburuk kondisi pasar otomotif domestik yang hingga kini masih bergerak stagnan.
Sepanjang kuartal I/2026, penjualan mobil secara wholesales tercatat mencapai 209.021 unit atau hanya tumbuh 1,7% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 205.539 unit.
Adapun, penjualan ritel selama Januari—Maret 2026 mencapai 211.905 unit atau naik tipis 0,5% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 210.766 unit.
Gaikindo berharap nilai tukar rupiah dapat segera kembali menguat. Pasalnya, apabila pelemahan berlanjut, produsen otomotif diperkirakan tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan penyesuaian harga jual kendaraan.
“Iya, mudah-mudahan rupiah bisa menguat lagi agar para produsen tidak perlu melakukan penyesuaian harga,” ujar Jongkie kepada Bisnis, Rabu (6/5/2026).
Menurut dia, kenaikan harga kendaraan akan semakin menekan kemampuan beli masyarakat. Selain itu, biaya impor kendaraan dan bahan baku komponen juga akan meningkat sehingga berpotensi mengganggu rantai produksi otomotif.
“Kalau harga naik kan angka penjualan bisa turun dan akibatnya produksi kendaraan juga akan turun,” jelasnya.
Apalagi, pasar mobil domestik masih menghadapi tren perlambatan dalam 4 tahun terakhir dan belum kembali menyentuh level penjualan 1 juta unit per tahun.
Tren Penjualan Mobil Wholesales Indonesia 2021–2025
|
Tahun |
Wholesales (unit) |
Perubahan YoY |
|
2021 |
887.202 |
— |
|
2022 |
1.048.040 |
+18,1% |
|
2023 |
1.005.802 |
-4,0% |
|
2024 |
865.723 |
-13,9% |
|
2025 |
803.687 |
-7,2% |
Sumber: Gaikindo (diolah)
Manufaktur Masuk Zona Kontraksi
Di tengah melemahnya konsumsi domestik, sektor manufaktur nasional turut menghadapi tekanan akibat konflik global yang memengaruhi pasokan bahan baku dan distribusi logistik. Kondisi tersebut tecermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona kontraksi pada April 2026.
Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026. Posisi di bawah level netral 50,0 mengindikasikan penurunan aktivitas manufaktur dan menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah memperbesar tekanan selisih kurs terhadap industri manufaktur, sehingga sektor tersebut menghadapi tekanan berlapis ketika permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.
Dia menilai kondisi tersebut menjadi anomali di tengah klaim pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 yang masih tinggi sebesar 5,61%, sedangkan PMI manufaktur justru bergerak di bawah level ekspansi.
“Ekonomi tumbuh 5,61% tapi PMI manufaktur masih kontraksi, jadi ada yang tidak klik di situ. Pemerintah perlu meningkatkan kredibilitas kebijakan, transparansi data ekonomi, serta kepastian regulasi,” jelas Bhima kepada Bisnis, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, Bhima berpandangan langkah stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing. Pemerintah juga perlu memperkuat permintaan domestik melalui berbagai stimulus, mulai dari melanjutkan bantuan subsidi upah (BSU), diskon tarif listrik, menjaga harga BBM, hingga memberikan insentif bahan baku untuk industri tertentu.
“Daya beli masyarakat kelas menengah harus dijaga agar konsumsi tetap mampu menopang industri otomotif nasional,” pungkasnya.
Strategi Pabrikan Otomotif
Dari kalangan produsen, CEO PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw mengakui pelemahan rupiah mulai berdampak terhadap kenaikan biaya impor kendaraan.
“Yang pasti saat ini beberapa hal sudah mulai naik. Misalnya shipment, biaya pengiriman dari luar ke Indonesia. Selain kita juga dapat jadwal lebih sulit, biaya pengiriman juga naik,” ujar Tan di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Saat ini, Indomobil Group masih menunggu langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada saat yang sama, perseroan juga terus berkoordinasi dengan prinsipal guna mengantisipasi situasi tersebut.
Apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, penyesuaian harga jual kendaraan dinilai menjadi salah satu opsi yang sulit dihindari.
“Ya, memang kalau ini betul-betul terjadi dalam jangka waktu yang panjang bahwa mata uang rupiah masih melemah terhadap beberapa mata uang asing, ya mau tidak mau memang harga itu harus dikoreksi naik. Itu mungkin salah satu strategi yang bisa kami lakukan,” jelasnya.
Meski demikian, perseroan juga tengah menyiapkan strategi ekspansi pasar, salah satunya melalui penambahan merek kendaraan listrik untuk memperkuat portofolio produk.
Dia mengungkapkan salah satu merek baru yang akan dibawa ke Indonesia ialah Leapmotor asal China. Dengan demikian, lini kendaraan listrik Indomobil Group asal Negeri Tirai Bambu akan semakin beragam, mulai dari Changan, GAC Aion, Maxus hingga Leapmotor.
“Ya, Indomobil masih akan bertambah. Kami sudah umumkan bahwa merek Leapmotor ini akan kami luncurkan nanti waktu di GIIAS 2026,” ujar Tan.
Terlebih, pasar kendaraan listrik masih mendapatkan sentimen positif setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana pemberian insentif pembelian kendaraan listrik mulai Juni 2026.
Pelaksanaan insentif akan dilakukan secara bertahap dengan kuota awal sebanyak 100.000 unit kendaraan. Namun, pemerintah membuka peluang penambahan kuota apabila permintaan pasar meningkat signifikan.
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah berencana memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) khusus bagi kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).
Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai secara fundamental nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Namun, diyakini akan kembali stabil dan menguat ke depan.
Menurut Perry, keyakinan tersebut ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang masih kuat, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit hingga posisi cadangan devisa yang solid.
“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, fundamental kita itu kuat,” ucapnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Kendati demikian, tekanan jangka pendek terhadap rupiah masih terjadi akibat faktor global dan musiman. Dari eksternal, kenaikan harga minyak, suku bunga AS, serta penguatan dolar menjadi pemicu utama. Selain itu, arus modal keluar dari negara berkembang turut menekan nilai tukar.
Perry menjelaskan, secara musiman permintaan dolar AS meningkat pada periode April hingga Juni seiring kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, dan aktivitas ibadah haji.
Karena itu, BI menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing domestik maupun global. Intervensi dilakukan di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga non-deliverable forward (NDF) offshore di pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York untuk menjaga stabilitas rupiah.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing di tengah derasnya arus keluar dana dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN).
Pada saat yang sama, bank sentral melakukan pembelian SBN di pasar sekunder yang hingga saat ini mencapai Rp123,1 triliun untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menopang rupiah.
BI juga menjaga likuiditas perbankan tetap longgar dengan pertumbuhan uang primer sebesar 14,1%. Otoritas moneter turut memperketat pengawasan pembelian dolar AS oleh perbankan dan korporasi, termasuk rencana penurunan batas pembelian dolar dari US$100.000 menjadi US$25.000 guna meredam spekulasi di pasar valuta asing domestik.
Tinggalkan Balasan