Perubahan Kekuasaan dalam Industri Otomotif Global
Industri otomotif dunia sedang mengalami pergeseran kekuatan yang signifikan. Selama beberapa dekade, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat menjadi acuan utama dalam industri mobil global. Namun kini, produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) asal Tiongkok mulai menunjukkan dominasi mereka melalui kombinasi harga yang lebih terjangkau, teknologi canggih, serta rantai pasok baterai yang hampir tidak tergantikan.
Tesla, yang dipimpin oleh Elon Musk, masih menjadi pelopor dalam revolusi kendaraan listrik. Namun, keunggulan kompetitifnya semakin mendapat tekanan dari pesaing-pesaing baru. Perubahan ini terlihat jelas ketika kapal pengangkut BYD Zhengzhou tiba di Pelabuhan Melbourne pada Juni lalu dengan membawa 5.000 mobil listrik baru. Pengiriman tersebut merupakan pengiriman EV tunggal terbesar yang pernah diterima Australia.
Australia menjadi barometer penting dalam industri otomotif dunia karena tidak lagi memiliki produsen mobil domestik dan relatif minim hambatan perdagangan. Dalam waktu setahun, BYD berhasil memangkas jarak penjualan dengan Toyota, yang selama ini menjadi pemain utama di pasar tersebut.
Pengalaman Riz Akhtar, pendiri lembaga riset Carloop, mencerminkan perubahan persepsi konsumen terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok. Ia mengatakan bahwa mobil tersebut memiliki harga sekitar 40.000 dolar Australia, senyap, nyaman, dan dipenuhi teknologi. Menurutnya, keunggulan nilai yang ditawarkan EV Tiongkok membuat konsumen semakin rasional dalam menentukan pilihan.
“Konsumen tidak bodoh. Mereka tidak akan mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak perlu mereka keluarkan,” kata Akhtar. Perubahan perilaku konsumen juga dipicu oleh melonjaknya biaya energi. Steve Bragg dari Pitcher Partners menyebutkan bahwa perang Iran mengubah alasan masyarakat membeli kendaraan listrik.
“Lima tahun lalu, kebanyakan orang membeli EV karena alasan lingkungan. Sekarang alasannya adalah keuangan,” ujarnya. Akibatnya, hampir seperempat mobil yang terjual di Australia bulan lalu merupakan EV murni, naik tajam dari hanya 7 persen setahun sebelumnya.
Jika digabungkan dengan mobil hibrida, penjualannya kini hampir menyamai kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel. Data penjualan juga menunjukkan perubahan itu berlangsung cepat. Pada semester pertama tahun ini, penjualan Toyota turun 21 persen, Mazda merosot 17 persen, Subaru dan Mitsubishi masing-masing turun 25 persen, sedangkan Nissan anjlok 32 persen. Sebaliknya, BYD melonjak 124 persen, Chery naik 77 persen, sementara Geely melesat 495 persen.
Di sisi lain, produsen Jepang dan Eropa mulai mengakui besarnya tantangan tersebut. Wakil Ketua Toyota Koji Sato memperingatkan, “Jika keadaan tidak berubah, kita tidak akan bertahan.” Akhtar menilai banyak produsen Jepang terlambat memasuki era kendaraan listrik. “Mereka tidak memiliki produk yang siap diluncurkan,” katanya. Dia juga mengingatkan bahwa Jepang sebenarnya pernah memimpin teknologi EV, tetapi terlalu lama mempertahankan mesin pembakaran internal, mobil hibrida, dan hidrogen.
Keunggulan Tiongkok bukan terjadi secara kebetulan. Sejak awal 2000-an, pemerintah menyusun strategi nasional untuk membangun industri kendaraan listrik, memberikan insentif besar sejak 2009, serta mendorong perusahaan baterai seperti BYD masuk ke industri otomotif. Bersamaan dengan itu, Tiongkok memperkuat penguasaan rantai pasok mineral penting, termasuk litium, kobalt, mangan, grafit, hingga produksi anoda dan katoda baterai. Kini negara tersebut menghasilkan sekitar 90 persen baterai kendaraan listrik dunia.
Sebaliknya, Amerika Serikat justru bergerak ke arah berbeda. Pemerintahan Donald Trump menghapus berbagai insentif era Joe Biden untuk kendaraan listrik sehingga sejumlah proyek EV dibatalkan. Menurut investigasi The New York Times yang dikutip laporan tersebut, pembatalan proyek itu menyebabkan tiga raksasa otomotif Detroit menanggung penghapusan nilai aset mendekati USD 50 miliar atau sekitar Rp899 triliun (kurs Rp17.980 per dolar AS). Tarif impor memang melindungi pasar domestik, tetapi dinilai memperlambat inovasi kendaraan listrik.
Akhtar menambahkan, “Amerika kini terjepit karena Meksiko dan Kanada telah melonggarkan tarif dan mengimpor EV buatan Tiongkok.” Kondisi tersebut membuat harga mobil di kedua negara lebih kompetitif dibandingkan di Amerika Serikat.
Di tengah perubahan itu, Tesla tetap menjadi ikon revolusi kendaraan listrik global. Namun, ketika Tiongkok kini memproduksi lebih dari 75 persen EV dunia, sementara Amerika Serikat kurang dari 5 persen, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh inovasi teknologi. Kecepatan produksi, efisiensi biaya, dan penguasaan rantai pasok kini menjadi faktor yang menentukan siapa pemimpin baru industri otomotif global.
Tinggalkan Balasan