Sungai Penuh, Forumnusantaranews.com-
Tanah Mendapo Kota Sungai Penuh kembali bergemuruh. Setelah 18 tahun lamanya, tradisi agung masyarakat Kerinci, Kenduri Sko Enam Luhah, akhirnya dihidupkan lagi.
Bertempat di pusat adat itu, Sabtu (4/7/2026), ribuan warga berkumpul dalam Kaluhoi Sko bertema “Membudayakan Masyarakat Adat yang Beradab”.
Di tengah kemeriahan itu, Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos, MH yang bergelar Datuk Mangkubumi Setio Alam, dikukuhkan dengan gelar adat kehormatan Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh oleh Lembaga Kerapatan Adat Enam Luhah Sungai Penuh.
Momen ini bukan hanya untuk Gubernur. Tiga pemimpin daerah lainnya juga menerima gelar adat sebagai bentuk penghormatan. Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH, bergelar Depati Susun Negroi Tanoh Sungei Pnoh. Bupati Kerinci Monadi bergelar Depati Sinar Bumi Sakti. Sekda Kota Sungai Penuh Alpian bergelar Depati Setiawan Negroi Sungai Pnoh.
Hadir bersama isteri Hj. Hesnidar Haris atau Hesti Haris, Gubernur Al Haris menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kenduri. Ia mengingatkan, kemajuan tidak boleh membuat kita lupa daratan.
“Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi. Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah menunjukkan adat dan agama saling menguatkan,” ujar Gubernur Al Haris.
Menurutnya, Kenduri Sko adalah ruang untuk menanamkan nilai kepada generasi muda. Agar mereka tahu, menjadi modern tidak harus meninggalkan akar budaya.
Gubernur Al Haris menyebut kenduri kali ini sangat bersejarah. Terakhir kali digelar saat Sungai Penuh masih bagian Kabupaten Kerinci, 18–19 tahun lalu.
Ia memuji para sesepuh dan nenek-nenek adat yang tidak pernah lelah menjaga tradisi. Di tengah tahun politik, ia juga menitipkan pesan penting.
“Kita ini satu kita satu Sakti Alam Kerinci,” ucapnya. Ia juga mengapresiasi kekompakan Wali Kota Sungai Penuh dan Bupati Kerinci yang menurutnya menjadi contoh sinergi tanpa persaingan.
Gubernur berharap Kenduri Sko bisa menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap budaya sendiri. Sehingga budaya lokal tetap jadi “tuan rumah” di daerahnya.
Ia menekankan, nilai-nilai adat harus jadi penyaring dari pengaruh negatif globalisasi dan digitalisasi.
Di akhir sambutannya, Gubernur Al Haris mengimbau agar rumah adat dan empat simbol adat segera dikelola oleh satu payung, yaitu Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Tujuannya agar pelestarian adat berjalan lebih terarah.
Wali Kota Sungai Penuh Alfin, S.H., menegaskan Pemkot mendukung penuh Kenduri Sko 2026.
“Melalui kenduri sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci. Dengan semangat kebersamaan tersebut, Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh 2026 diharapkan berlangsung sukses, khidmat, dan semakin memperkuat eksistensi budaya daerah di tingkat nasional,” pungkasnya.
Acara ditutup meriah dengan pertunjukan pencak silat, tari Iyo-Iyo, tari Rangguk, tari Sekapur Sirih, hingga tari Asoak yang memukau.(Nic/Tat)
Tanah Mendapo Kota Sungai Penuh kembali bergemuruh. Setelah 18 tahun lamanya, tradisi agung masyarakat Kerinci, Kenduri Sko Enam Luhah, akhirnya dihidupkan lagi.
Bertempat di pusat adat itu, Sabtu (4/7/2026), ribuan warga berkumpul dalam Kaluhoi Sko bertema “Membudayakan Masyarakat Adat yang Beradab”.
Di tengah kemeriahan itu, Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos, MH yang bergelar Datuk Mangkubumi Setio Alam, dikukuhkan dengan gelar adat kehormatan Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh oleh Lembaga Kerapatan Adat Enam Luhah Sungai Penuh.
Momen ini bukan hanya untuk Gubernur. Tiga pemimpin daerah lainnya juga menerima gelar adat sebagai bentuk penghormatan. Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH, bergelar Depati Susun Negroi Tanoh Sungei Pnoh. Bupati Kerinci Monadi bergelar Depati Sinar Bumi Sakti. Sekda Kota Sungai Penuh Alpian bergelar Depati Setiawan Negroi Sungai Pnoh.
Hadir bersama isteri Hj. Hesnidar Haris atau Hesti Haris, Gubernur Al Haris menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kenduri. Ia mengingatkan, kemajuan tidak boleh membuat kita lupa daratan.
“Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi. Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah menunjukkan adat dan agama saling menguatkan,” ujar Gubernur Al Haris.
Menurutnya, Kenduri Sko adalah ruang untuk menanamkan nilai kepada generasi muda. Agar mereka tahu, menjadi modern tidak harus meninggalkan akar budaya.
Gubernur Al Haris menyebut kenduri kali ini sangat bersejarah. Terakhir kali digelar saat Sungai Penuh masih bagian Kabupaten Kerinci, 18–19 tahun lalu.
Ia memuji para sesepuh dan nenek-nenek adat yang tidak pernah lelah menjaga tradisi. Di tengah tahun politik, ia juga menitipkan pesan penting.
“Kita ini satu kita satu Sakti Alam Kerinci,” ucapnya. Ia juga mengapresiasi kekompakan Wali Kota Sungai Penuh dan Bupati Kerinci yang menurutnya menjadi contoh sinergi tanpa persaingan.
Gubernur berharap Kenduri Sko bisa menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap budaya sendiri. Sehingga budaya lokal tetap jadi “tuan rumah” di daerahnya.
Ia menekankan, nilai-nilai adat harus jadi penyaring dari pengaruh negatif globalisasi dan digitalisasi.
Di akhir sambutannya, Gubernur Al Haris mengimbau agar rumah adat dan empat simbol adat segera dikelola oleh satu payung, yaitu Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Tujuannya agar pelestarian adat berjalan lebih terarah.
Wali Kota Sungai Penuh Alfin, S.H., menegaskan Pemkot mendukung penuh Kenduri Sko 2026.
“Melalui kenduri sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci. Dengan semangat kebersamaan tersebut, Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh 2026 diharapkan berlangsung sukses, khidmat, dan semakin memperkuat eksistensi budaya daerah di tingkat nasional,” pungkasnya.
Acara ditutup meriah dengan pertunjukan pencak silat, tari Iyo-Iyo, tari Rangguk, tari Sekapur Sirih, hingga tari Asoak yang memukau.(Nic/Tat)
Tinggalkan Balasan