Duka di Tengah Banjir yang Menyeret Jiwa Warga Semarang
Banjir yang melanda kawasan Mangkang Kulon, Kota Semarang, tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik pada rumah dan fasilitas warga. Bencana ini juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, terutama Muhammad Zaenuddin (36), yang kehilangan ibundanya, Maryam (70), dalam peristiwa tragis tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat malam, 15 Mei 2026, sekitar pukul 19.00 WIB. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu naiknya debit air Sungai Plumbon hingga tanggul jebol. Air bah setinggi sekitar 120 sentimeter langsung menerjang permukiman warga dengan arus yang sangat deras.
Saat kejadian, Maryam sedang berada di depan rumah. Zaenuddin yang sedang bekerja hanya bisa menerima kabar duka bahwa sang ibu hanyut terbawa arus sungai. Ia mengungkapkan rasa sakit yang mendalam, sambil menambahkan bahwa cucunya juga mencoba menolong namun ikut hanyut.
“Cucuku niat mau menolong, ikut hanyut sekalian,” ujar Zaenuddin dengan suara tercekat.
Beruntung, cucu Maryam berhasil selamat dari arus yang ganas. Namun, Maryam hilang dalam gelap malam dan baru ditemukan keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Pencarian dilakukan oleh keluarga dan warga sekitar selama semalaman.
Bagi warga Mangkang Kulon, banjir bukanlah hal asing. Namun kali ini, bencana ini meninggalkan dampak yang lebih dalam karena korban jiwa. Zaenuddin berharap pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Plumbon agar tragedi serupa tidak terulang.
“Cukup ibu saya saja yang jadi korban. Jangan ada korban selanjutnya,” katanya.
Ancaman Terus Menghantui Warga
Ilma Susipa (40), salah satu warga lain yang terdampak banjir, mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Ia mengaku hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun di Kota Semarang. Baginya, banjir adalah ancaman yang nyata, terutama jika tanggul jebol.
Pada malam kejadian, Ilma harus menghadapi banjir bersama anak-anaknya tanpa didampingi suaminya yang sedang bekerja. Air masuk hingga menggenangi kamar mandi setinggi lutut dan merusak beberapa fasilitas rumah, termasuk pipa saluran air.
Selain kerusakan rumah, warga kini juga menghadapi ancaman gangguan kesehatan akibat sanitasi yang memburuk pasca-banjir. Ilma mengalami gatal-gatal dan sakit perut sehingga harus memeriksakan diri ke posko kesehatan setempat.
Meski bantuan logistik dan layanan kesehatan gratis mulai disalurkan, warga tetap berharap solusi permanen menjadi prioritas utama agar mereka bisa hidup lebih tenang.
“Mohon Sungai Plumbon untuk bisa segera dinormalisasi,” pinta Ilma.
Tanggapan Pemerintah dan Upaya Penanganan
Menanggapi situasi ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan penanganan pascabencana dilakukan sesuai prosedur dan melibatkan berbagai instansi terkait. Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas PU terlibat dalam penanganan berbagai aspek, seperti pengobatan warga, cadangan pangan, dan perawatan infrastruktur.
Dalam kunjungan ke lokasi banjir, Selasa 19 Mei 2026, Ahmad Luthfi juga menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban dan memeluk Zaenuddin sebagai bentuk empati.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, BNPB, BBWS Pemali-Juana, dan Pemerintah Kota Semarang telah menggelar rapat terbatas terkait penanganan banjir di kawasan tersebut. Hasil rapat memutuskan bahwa normalisasi Sungai Plumbon akan segera dilakukan. Selain itu, proses pembebasan lahan dan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak sedang dalam perhitungan.
BNPB juga menyalurkan bantuan senilai Rp324.223.000 untuk mendukung penanganan dampak banjir di Mangkang Kulon. Meskipun bantuan sudah diberikan, warga masih menantikan solusi jangka panjang agar kembali merasa aman dan nyaman di lingkungan tempat tinggal mereka.
Tinggalkan Balasan