Arti Istilah Londo Ireng yang Diucapkan Prabowo
Istilah “Londo Ireng” kembali menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakannya dalam pidatonya. Istilah ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan masa kolonial, dan kini digunakan sebagai metafora untuk menyebut pihak yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan asing daripada bangsa sendiri.
Pemerhati sejarah dan budaya, KRMRAP Nuky Mahendranata Adiningrat, menjelaskan bahwa istilah Londo Ireng muncul sejak Perang Diponegoro, ketika pasukan Pangeran Diponegoro berhadapan dengan Legiun Mangkunegaran. Pemerintah kolonial Belanda merekrut tentara dari berbagai latar belakang, termasuk warga pribumi, untuk menghadapi pasukan yang melawan kolonialisme. Keberadaan orang-orang dari bangsa sendiri yang justru berada di pihak lawan kemudian melahirkan istilah tersebut.
Menurut KRMRAP Nuky, makna Londo Ireng berkembang menjadi sebutan bagi pihak yang dianggap mengutamakan kepentingan asing dibandingkan kepentingan bangsanya sendiri. Dalam konteks pidato Presiden Prabowo, istilah tersebut dapat dipahami sebagai gambaran bagi pihak yang dinilai menjadi musuh dari dalam bangsa sendiri. Secara etimologi, istilah Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa, yakni londo yang berarti orang Belanda dan ireng yang berarti hitam. Awalnya, istilah itu merujuk kepada prajurit asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda menjadi anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).
Seiring waktu, penggunaan istilah Londo Ireng mengalami pergeseran makna. Jika awalnya merupakan istilah yang berkaitan dengan sejarah militer kolonial, kini sebutan tersebut lebih sering digunakan sebagai metafora dalam kritik sosial maupun komunikasi politik. Dalam konteks saat ini, istilah tersebut kerap ditujukan kepada individu atau kelompok yang dianggap lebih memperjuangkan kepentingan pihak asing daripada kepentingan nasional.
Warga Gunungkidul Terdampak Kekeringan Akibat Musim Kemarau
Ancaman kekeringan kembali menghantui sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seiring musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama akibat pengaruh El Nino. Warga pun mulai menghemat penggunaan air bersih sambil berharap bantuan datang sebelum cadangan air mereka habis.
Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Dusun Talgapung, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang. Di kawasan tersebut, masyarakat mengandalkan sisa air yang tersimpan di bak penampungan karena hujan belum juga turun. Ketua RT Dusun Talgapung, Heri, mengatakan persoalan kekeringan sudah menjadi siklus yang berulang hampir setiap tahun. Kondisi itu memaksa warga mengurangi penggunaan air untuk berbagai kebutuhan sehari-hari agar persediaan tetap bertahan selama musim kemarau.
PAH Sejak Tahun 1980-an
Sebagian besar rumah di dusun tersebut telah memiliki penampungan air hujan (PAH) sejak dekade 1980-an. Fasilitas itu menjadi sumber cadangan utama yang dimanfaatkan warga ketika musim kemarau tiba. Air hujan disimpan di dalam bak berdiameter sekitar 2,5 meter agar dapat digunakan selama beberapa waktu. Namun, ketika persediaan itu habis, warga terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Satu tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter dijual seharga Rp170.000 dan rata-rata hanya cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua pekan. Dengan kondisi tersebut, setiap rumah tangga sedikitnya harus mengeluarkan sekitar Rp340.000 setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Untuk membantu meringankan beban warga, Rumah Amal Salman Yogyakarta bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Yogyakarta menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Sebanyak 30 truk tangki air dikirimkan ke Dusun Talgapung. Bantuan itu langsung dimanfaatkan warga dengan mengisi bak penampungan sebagai persediaan selama musim kemarau masih berlangsung.
Guru Honorer Dianiaya Aparat Desa
Seorang guru honorer di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), harus mendapatkan perawatan setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang aparat desa. Korban disebut mengalami luka pada bagian kepala dan wajah setelah insiden yang melibatkan batu sebagai alat pemukul.
Guru tersebut diketahui bernama Lusia Banunaek (44), warga Desa Nenotes, Kecamatan Santian, Kabupaten TTS. Usai kejadian, korban yang dalam kondisi terluka mendapat bantuan warga untuk mendatangi Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Boking guna membuat laporan. Kapolsek Boking Ipda Alfridus Bere membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan tersebut.
“Betul, kejadiannya pada Kamis sekitar pukul 08.30 Wita,” kata Alfridus, Jumat (24/7/2026) malam. Alfridus menjelaskan, dugaan penganiayaan itu terjadi ketika korban sedang dalam perjalanan menuju sekolah untuk menjalankan aktivitas mengajar. Saat melewati rumah Agnes Sofia Bana yang diduga sebagai pelaku, korban kemudian dihentikan dan ditanya terkait informasi mengenai dugaan ancaman yang disebut pernah disampaikan kepada pelaku.
Salah Paham Berujung Penganiayaan
Menurut keterangan polisi, pelaku mempertanyakan apakah korban benar pernah mengancam dirinya. Korban kemudian menanyakan sumber informasi tersebut. Pelaku menyebut informasi itu berasal dari kepala dusun. Percakapan tersebut kemudian berkembang menjadi pertengkaran antara keduanya.
Polisi menduga dalam kejadian itu pelaku mendorong korban hingga terjatuh. Setelah itu, korban disebut ditindih dan diinjak pada bagian bahu belakang. Tidak hanya itu, pelaku juga diduga melakukan pemukulan terhadap korban. Polisi menyebut korban mengalami pukulan pada bagian mata kanan serta terkena hantaman batu di area dahi dan kepala.
Akibat kejadian tersebut, Lusia mengalami sejumlah luka dan kemudian melaporkan peristiwa itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Boking untuk mendapatkan penanganan hukum. Alfridus mengatakan, berdasarkan penyelidikan sementara, dugaan penganiayaan tersebut diduga berawal dari kesalahpahaman antara korban dan pelaku.
Tinggalkan Balasan