BKSD Jambi Dorong Tata Kelola Bersama Untuk Jaga Habitat Gajah di Bukit Tigapuluh

Jambi, Forumnusantaranews.com-
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menekankan pentingnya sistem tata kelola multistakeholder dalam mengelola Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Kawasan seluas 354 ribu hektare itu jadi habitat krusial bagi 96-129 ekor gajah sumatera Elephas maximus sumatrensis yang tersisa.
Hal itu mengemuka dalam diskusi BKSDA Jambi bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi di Kabupaten Tebo, (27/6/2026)
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menyebut Bukit Tigapuluh sebagai kawasan lintas batas yang melibatkan pemerintah, masyarakat, perusahaan, NGO, hingga pengelola hutan.
“Kita harus membangun kerja kolektif. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek pengelola karena mereka yang paling dekat dengan kawasan dan merasakan langsung dampaknya,” ujar Himawan.
Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi warga dan kelestarian habitat satwa liar. Interaksi gajah dengan perkebunan dan permukiman warga masih sering terjadi.
Karena itu BKSDA mendorong sistem kerja bersama yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. “Konservasi tidak hanya soal melindungi satwa dan hutan, tapi juga meningkatkan kesejahteraan warga yang bagian dari biodiversitas itu sendiri,” katanya.
Sejalan dengan itu, Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia Nazli Herimsyah memaparkan program restorasi berbasis masyarakat yang berjalan 6 bulan terakhir.
Konsepnya “dari petani untuk petani”. Warga terlibat penuh mulai perencanaan, pilih komoditas, pembibitan, tanam, sampai pemantauan.
Hasilnya: 30.523 bibit dari 28 jenis tanaman sudah ditanam 112 petani di 7 kelompok tani. WWF juga fasilitasi pelatihan kompos, rumah pembibitan, mitigasi konflik satwa liar, dan aplikasi pantau tanaman digital.
Kolaborasi dengan AJI Jambi dilakukan untuk mendokumentasikan proses restorasi dan memperluas diseminasi ke publik. Lewat liputan dan pemutaran film, para pihak diajak lihat langsung capaian, tantangan, dan peluang kelola Bukit Tigapuluh demi ekonomi warga berkelanjutan tanpa merusak ekosistim hutan.(Tat/Nic)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *