Operasi ‘Project Freedom’ Dimulai, AS Klaim Hancurkan 6 Kapal Cepat Iran, IRGC Membantah

Eskalasi Militer di Selat Hormuz: AS Mengklaim Hancurkan Kapal Iran dan Mencegat Rudal Jelajah

Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dalam insiden terbaru, militer AS mengklaim berhasil menghancurkan enam kapal kecil Iran serta mencegat sejumlah rudal jelajah dan drone. Peristiwa ini terjadi saat Iran mencoba mengganggu operasi angkatan laut AS yang bertujuan untuk membuka kembali jalur pelayaran vital dunia.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah meluncurkan operasi militer bernama “Project Freedom”. Tujuan dari operasi ini adalah untuk merebut kembali kendali atas Selat Hormuz, yang sebelumnya ditutup oleh Iran sejak konflik dengan AS dan Israel meletus pada 28 Februari. Operasi ini dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pembersihan ranjau laut yang dipasang oleh Iran. Setelah itu, AS menguji keamanan jalur dengan mengirim dua kapal komersial berbendera Amerika melintasi Selat Hormuz.

Penjelasan Komandan United States Central Command

Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran aktif mencoba mengganggu operasi tersebut. Menurutnya, IRGC telah meluncurkan berbagai rudal jelajah, drone, dan kapal kecil ke arah kapal-kapal yang dilindungi AS. Namun, pihak AS berhasil mengalahkan setiap ancaman tersebut melalui penggunaan sistem pertahanan yang presisi.

Cooper juga memperingatkan pasukan Iran agar tidak mendekati aset militer AS. Operasi ini melibatkan sekitar 15.000 personel, kapal perusak Angkatan Laut, lebih dari 100 pesawat udara dan laut, serta sistem bawah laut. Meski gencatan senjata sempat diumumkan pada 8 April, Cooper menolak memastikan apakah kesepakatan tersebut masih berlaku, terutama setelah Iran kembali melancarkan serangan, termasuk ke Uni Emirat Arab pada hari yang sama.

Pernyataan Iran yang Tidak Sesuai dengan Klaim AS

Pihak Iran membantah klaim AS. Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa tidak ada kapal komersial yang melintas dalam beberapa jam terakhir, dan menyebut pernyataan AS sebagai tidak benar. Media pemerintah Iran juga menyangkal laporan bahwa kapal mereka telah ditenggelamkan.

Dalam insiden terpisah, sebuah kapal Korea Selatan dilaporkan terkena ledakan di kawasan tersebut. Trump menyebut kapal itu tidak termasuk dalam operasi AS, namun menyarankan agar bergabung dengan upaya perlindungan pelayaran yang dipimpin Washington.

Sistem Pertahanan Berlapis yang Dilibatkan

Menurut Cooper, operasi ini bukan sekadar pengawalan kapal biasa, melainkan sistem pertahanan berlapis yang melibatkan kapal perang, helikopter Apache dan Seahawk, pesawat tempur, hingga perang elektronik. Ia menjelaskan bahwa jika hanya mengawal kapal, itu seperti satu lawan satu. Tapi sekarang, AS memiliki sistem pertahanan yang jauh lebih luas dan terintegrasi.

Helikopter Apache dan Seahawk dilaporkan menjadi kunci dalam menghancurkan kapal cepat Iran yang mencoba mendekati armada AS. Dalam 24 jam terakhir, tercatat 805 kapal komersial, termasuk tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal kargo, masih berada di kawasan Teluk berdasarkan data MarineTraffic.

Operasi militer AS di Selat Hormuz menunjukkan komitmen Washington untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Meskipun terdapat perbedaan pendapat antara AS dan Iran, situasi ini tetap menjadi perhatian global karena dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *