Perintah Khamenei: Status Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Dulu

Perubahan Status Selat Hormuz dan Kebijakan Iran yang Berubah

Selat Hormuz, yang merupakan jalur laut penting di kawasan Teluk Persia, telah mengalami perubahan signifikan dalam statusnya. Wakil Juru Bicara Parlemen Iran, Ali Nikzad, menyampaikan bahwa situasi di selat ini tidak akan kembali seperti sebelum perang pecah. Pernyataan ini didasarkan pada instruksi dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Nikzad menegaskan bahwa kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz akan diambil berdasarkan keputusan yang dibuat oleh para pengambil keputusan tingkat tinggi di negara tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran meminta agar rute-rute lain juga diperhatikan dengan cara yang sama seperti Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa Iran berkomitmen untuk menjaga kontrol atas jalur-jalur strategis di kawasan tersebut.

Sejak kematian ayahnya, Ali Khamenei, yang terjadi akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, Mojtaba Khamenei dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Mojtaba yang dirilis melalui media Iran. Hal ini mencerminkan proses transisi kepemimpinan yang masih dalam tahap awal.

Iran telah menutup Selat Hormuz sejak perang dimulai pada awal Maret 2026. Namun, beberapa waktu lalu, Wakil Juru Bicara Parlemen Iran, Hamidreza Haji-Babaei, mengumumkan bahwa negaranya menerima pendapatan pertama dari penerapan tarif tol terhadap kapal-kapal yang melewati selat tersebut. Uang hasil tarif tol ini disimpan di Bank Sentral Iran, sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Haji-Babaei.

Beberapa media, termasuk Tasnim, melaporkan bahwa pendapatan pertama dari tol Selat Hormuz telah masuk ke rekening Bank Sentral. Pernyataan ini juga dikutip oleh media lain tanpa adanya penjelasan tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz semakin terstruktur dan memiliki dampak ekonomi yang nyata.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama kapal Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di wilayah perairan tersebut. Menurut Ghalibaf, tindakan militer AS dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui kedua negara.

“Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” ujar Ghalibaf dalam pernyataannya di akun X pribadinya.

Perubahan status Selat Hormuz dan kebijakan Iran terhadap jalur laut ini menunjukkan bahwa negara tersebut sedang memperkuat posisi strategisnya di kawasan. Dengan penutupan selat dan penerapan tarif tol, Iran mencoba untuk memperoleh keuntungan ekonomi sambil tetap menjaga kontrol atas jalur vital tersebut. Langkah-langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi ancaman dari negara-negara lain di kawasan.

Dengan perubahan ini, Selat Hormuz tidak lagi menjadi jalur bebas seperti sebelumnya. Status baru ini dapat berdampak pada perdagangan internasional dan stabilitas regional. Masyarakat internasional tentu akan terus memantau perkembangan situasi ini, karena Selat Hormuz adalah salah satu jalur paling penting bagi pasokan minyak dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *