Kritik terhadap Komunikasi Kenaikan Harga Pertamax
Pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, memberikan kritik terhadap langkah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menjelaskan kenaikan harga Pertamax melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet. Menurutnya, tindakan tersebut justru menjadi bentuk penyalahgunaan wewenang dan tidak sesuai dengan tanggung jawab seorang pejabat di level BUMN.
Hensa menilai bahwa kebijakan sebesar ini seharusnya disampaikan langsung oleh pimpinan BUMN energi tersebut, bukan oleh pejabat setingkat Sekretaris Kabinet. Ia menyebut hal ini sebagai tamparan keras bagi citra BUMN yang seharusnya lebih transparan dan profesional dalam mengkomunikasikan kebijakan penting kepada masyarakat.
“Kenapa kenaikan harga Pertamax harus dijelaskan oleh Seskab? Lama-lama citra Teddy bisa rusak karena selalu pasang badan,” ujar Hensa saat berbicara kepada wartawan.
Meskipun ia mengakui bahwa langkah Teddy dalam menjelaskan kebijakan tersebut layak diapresiasi, Hensa menilai bahwa upaya tersebut masih jauh dari memadai. Di tengah minimnya respons dari kementerian teknis, ia melihat bahwa pemerintah sedikit berusaha untuk berkomunikasi dengan publik, namun tetap saja kurang etis dalam menghadapi isu sebesar ini.
“Yang dilakukan Teddy itu meski bagus, tapi minimum banget. Dan lagi-lagi Teddy yang pasang badan, kalau diumumkan lewat Instagram saja, menurut saya kurang etis untuk urusan sebesar ini,” tegasnya.
Hensa menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar seperti Pertamax seharusnya dikomunikasikan secara langsung dan verbal kepada masyarakat. Ia menyarankan adanya konferensi pers yang menjelaskan alasan serta dampak kenaikan harga secara rinci. Menurutnya, cara seperti ini jauh lebih efektif dan mencerminkan tanggung jawab pemerintah dalam menghadapi isu penting.
Sikap diam dari jajaran direksi BUMN, menurut Hensa, mencerminkan ketidakberanian berkomunikasi dengan rakyat. Ia menilai bahwa transparansi adalah kewajiban dasar perusahaan pelat merah yang produknya digunakan oleh jutaan orang setiap hari.
“Harusnya kenaikan Pertamax ini diumumkan secara lisan, ada konferensi persnya dan dijelaskan secara rinci mengapa harganya naik, apa dampaknya ke masyarakat. Bukan sekadar unggah di Instagram,” ujar Hensa.
Ia menegaskan bahwa pola komunikasi seperti ini harus diperbaiki ke depannya. Jika ada kebijakan yang berdampak luas, para pemangku kepentingan utama harus berani tampil ke depan publik, bukan bersembunyi di balik postingan media sosial dan membiarkan pejabat lain yang menanggung beban komunikasinya.
“Kami berterima kasih atas postingan Mas Seskab. Tapi ini bukan solusi jangka panjang. Lain kali, kalau ada apa-apa, komunikasikan langsung kepada rakyat, secara langsung, lisan, bervisual, dan jelas. Jangan tunggu sampai Seskab yang turun tangan,” pungkas Hensa.
Tinggalkan Balasan